Jadi, aku dan dosen ku yang di Indonesia dan dosen ku yang di Amsterdam, Belanda sudah berusaha keras agar Universiteit van Amsterdam masuk ke daftar LPDP non-afirmasi. Namun semua upaya tidak merubah apapun. :(
Beberapa minggu yang lalu aku dan dosen ku yang dari Belanda sempat berjumpa di kampus. Kami berbincang sambil minum kopi. Kami juga berbincang saat di atas kapal menuju sebuah air terjun. Kami juga berbincang saat makan malam. Eehh..
Intinya, beliau tampak sedikit sedih karena UvA tidak ada masuk daftar dan di bagian yang ada UvA di daftar afirmasi, kami tidak bisa masuk.
Oh iya, dari kampus kami ada 6 orang yang segerombolan yang mendapatkan LoA ke UvA. Kami dapat LoA dari jalur Pre-Master, dosen dari UvA datang mengajar ke kampus kami di Indonesia.
Nah jadi beliau menyarankan agar tidak terlalu berharap ke satu beasiswa saja, misalnya LPDP saja atau StuNed saja. Tapi kami terlalu berharap ke LPDP bukan tanpa alasan. Kami tergiur kemampuan LPDP menawarkan beasiswa full. Sedangkan beasiswa yang lain justru banyak yang pakai persenan. Misalnya dari total biaya Rp 800 juta, yang dibiayai adalah 20 persen atau Rp 160 juta.
Beliau meyarankan agar lebih semangat lagi dalam mencari beasiswa. Karena bisa jadi harus mendapatkan 2 atau 3 beasiswa sekaligus agar biaya kuliah 100% terpenuhi.
Di sisi lain, juga diperlukan dukungan yang penuh dari kampus kami, seperti dosen, pejabat di kampus, atau komponen lainnya. Misalnya untuk meyakinkan suatu organisasi (yang tugasnya tidak terkhusus untuk memberi beasiswa, hanya sekedar bantuan atau CSR(Tanggung Jawab Sosial Perusahaan) agar mau memberikan bantuan dana agar kami dapat melanjutkan S-2.
Diharapkan, tokoh sekelas Rektor, Dekan, atau KaProdi mau nimbrung ke perusahaan-perusahaan untuk hal ini.
Beliau juga menyarankan agar Rektor, Dekan, atau KaProdi juga lebih dilibatkan lagi ke dalam Program Pre-Master. Bisa sebagai pengajar atau sedikit meracik kurikulum. Sehingga dapat mengetahui detail dari kemajuan dan perkembangan mahasiswa nya. Atau sepalingtidaknya, rasa atau perasaan dibutuhkan dan dilibatkan itu terkadang dapat membuat seseorang menjadi senang dan mau mendukung dengan lebih banyak, lebih besar, dan lebih sering-sering lagi.
Akhir kata, ada hal yang menyeramkan yang dosen dari Belanda sampaikan. Yaitu, jika dari kami ber-6 tidak ada 3 orang yang melanjut ke UvA, maka program kerjasama yaitu Pre-Master ini akan BERHENTI. Terlebih lagi, TIDAK ADA ekstensi masa berlaku LoA. Beliau merasa bahwa pemegang jabatan masih kurang turun tangan dan menunjukkan kepedulian dengan program ini. Jika perhatian dari para pemegang jabatan juga dirasa tetap kurang dan tidak ditunjukkan adanya kepedulian yang meningkat, maka jelas sajalah program ini DIHENTIKAN.
Beliau menyatakan ada kampus lain yang sudah jelas-jelas 'merendahkan hati' mereka, menerima dan menanggapi dengan antusias, dan tentu saja memberikan uang yang lebih banyak. Kampus tersebut bisa dibilang lebih tidak segan-segan mengeluarkan uangnya dalam jumlah lebih banyak, lebih besar, dan lebih sering-sering. Jadi bukan dosen dari Belanda yang 'berkorban', tetapi justru dosen dari Belanda yang akan membawa uang lebih ke negaranya. Tentu saja, mereka sudah punya rencana yang matang, jelas, dan terperinci. Sehingga, jiwa meneliti dan jiwa mengajar dari dosen Belanda pun meningkat.
Nah kalau para pemegan jabatan saja tidak menunjukkan kepedulian, siapa yang tak lemas? pasti semangatnya justru jatuh, benar kah? Yang ada justru untuk MENGAKHIRI program ini.
Demikian dulu Part-2 kali ini. Semoga kami, ""Yang Sisa 6 Orang"" dapat melanjutkan S-2 ke UvA di tahun 2019. Amiinnn..
Wadawww, seram jugaa
ReplyDeleteSeram, cukup seram, seran kali..
Delete