Thursday, November 22, 2018

TAPANULI UTARA SEHARUSNYA JADI 'SARANG' ATAU ' MARKAS' TOURIST GUIDE (PRAMU WISATA)

Mungkin kita sama-sama tahu kalau di Tapanuli Utara (Taput) terdapat pintu masuk ke Danau Toba. Pintu masuk itu ialah Bandara Silangit atau Bandara Sisingamangaraja XII, atau Siborong-Borong DTB. Upaya pengembangan bandara ini terbilang serius, megah, dan totalitas. Pasalnya, rute ke Kuala Lumpur, Malaysia, pun ada di bandara ini. Sudah bisa orang dari Toba langsung ke Kuala Lumpur, Malaysia. Bahkan dari Silangit bisa langsung ke Jakarta. Bahkan dulu, sempat ada penerbangan langsung Singapura antara Silangit.

Tapi, penerbangan Singapura dan Silangit, pada saat tulisan ini dibuat, sudah tidak ada lagi. Kenapa?
Pada tulisan ini, hanya memberikan asumsi dan kemungkinan. Katakan saja, mungkin karena tourist guide atau pramu wisata belum dalam jumlah melimpah. Mungkin di Pulau Samosir dan Parapat ada banyak tourist guide atau pramu wisata, dan hal ini sangat wajar. Wajar karena kedua tempat ini adalah masih tujuan utama yang diketahui wisatawan. Misalnya, sering diucapkan seperti begini, 'Danau Toba adalah danau yang luas, dan di tengah-tengah nya ada suatu pulau, yaitu Pulau Samosir'. Kalau orang datang dari arah Medan, maka kemungkinan pergi ke Samosir lewat Parapat. Parapat terkenal dengan pantainya, pelabuhannya, dan juga daerah yang komplit dari segi perhotelan dan MICE (Meeting, Incentive, Convention, and Exhibition" (Pertemuan, Insentif, Konvensi, dan Pameran); misalnya tempat rapat). Jadi, adalah wajar bila ada banyak tourist guide atau pramu wisata di Pulau Samosir dan Parapat. 

Padahal, pintu masuk nya sekarang adalah Bandara Silangit. Mungkin anda bisa bayangkan ketika turis atau wisatawan datang dan dia bingung harus mencari informasi kemana, bertanya kepada siapa. Bisa jadi dia akan segan untuk menanyakan, karena takut mengganggu orang-orang di sekitarnya. Lantas dia bertemu dengan supir yang mau mengantarnya. Mungkin di sepanjang perjalanan, si supir sedikit banyak bercerita dan menunjukkan berbagai objek di dalam perjalanan dari Bandara Silangit ke Parapat atau ke Samosir. Lantas si turis atau wisatawan mungkin merasa bahwa si supir adalah tourist guide atau pramu wisata, Bukan ada maksud merendahkan siapa pun, namun hal ini adalah mungkin keliru, karena supir dan pramu wisata yang profesional itu berbeda.

Information desk dan Pusat Informasi Pariwisata Tapanuli Utara (North Tapanuli Tourist Information Centre) mungkin seharusnya dikembangkan agar lebih mumpuni untuk menanggapi kebutuhan dan keinginan turis atau wisatawan dalam mendapatkan informasi. Mungkin ada baiknya jika puluhan atau bahkan ratusan petugas dan pramu wisata harus selalu siap siaga dan bersedia untuk memandu wisatawan.

Itupun harus ada counter atau center bagi travel agent dan tourist guide yang resmi, dan terlatih. Jangan sampai nanti ada orang-orang atau oknum-oknum tertentu yang mengaku sebagai tourist guide atau pramu wisata di Bandara Silangit, padahal abal-abal, tidak jelas, tidak terlatih, tidak resmi. Saat memandu, yang diceritakannya justru hal-hal yang keliru dan menjelek-jelekkan tentang fakta ilmiah, legenda-kepercayaan, dan adat-istiadat budaya masyarakat Suku Batak. Saat memandu justru membuang sampah sembarangan.

Hal ini harus dijadikan sebagai kesempatan emas bagi Taput dalam pengembangan SDM bagi anak-anak muda di Taput. Dilatih story telling, diajarin story line, dilatih berbahasa Inggris, Melayu, dan Bahasa Batak, diajarin fakta ilmiah, legenda-kepercayaan, dan adat-istiadat budaya masyarakat Suku Batak dari A sampai Z. Sekali lagi saya pikir mungkin seharusnya dalam jumlah anak muda yang banyak, dan pendidikan yang besar-besaran. Sehingga saat wisatawan yang terbang dari Jakarta, Malaysia, Singapura, Bali, Batam, dan Medan ke Bandara Silangit, mereka langsung disambut dan dilayanai oleh travel agent lokal dan pramu wisata lokal yang merupakan anak-anak muda dari Tapanuli Utara.

Demikian dulu curhat asumsi saya kali ini.

No comments:

Post a Comment