TOBA ENTREPRENEURSHIP FESTIVAL (TEF) 2018
THE BIGGEST ENTREPRENEURSHIP WEEKEND
IN
LAKE TOBA AREA
Pada kesempatan kali ini, blog ini akan berbagi ilmu yang diidapat dari TEF 2018.
Let's check it out!
1.
Welcome
and Intro: Ricardo Situmeang
Ricardo
Situmeang adalah seorang dosen dari Institut Teknologi Del. Beliau juga
terlibat dalam penyelenggaraan TEF 2018. Beliau menyampaikan bahwa SDM di
Kawasan Danau Toba memiliki keuntungan dalam membangun startup di Kawasan Danau
Toba karena memiliki pengetahuan dan pengalaman yang seharusnya lebih luas dan mendalam
tentang kondisi pasar Kawasan Danau Toba. Beliau juga mengapresiasi usaha dan
kepedulian dari BPODT terhadap pengembangan pendidikan dan penggunaan
pemanfaatan teknologi di Kawasan Danau Toba. Beliau berharap agar upaya
pengembangan dan pengelolaan pendidikan di Kawasan Danau Toba dapat
meningkatkan SDM lokal dan meningkatkan ekosistem bisnis di Kawasan Danau Toba
dari. Event seperti TEF, dapat membuka wawasan mahasiswa dan meningkatkan ketertarikan
untuk merintis usaha bisnis yang memecahkan permasalahan di Kawasan Danau Toba.
2.
From Idea
to Execution (How to prepare future entrepreneurs) (GERAKAN 1000 STARTUP)
Miftachur
Robani atau akrab dipangil Ben, merupakan Chief Marketing Officer LindungiHutan
Facilitator Gerakan Nasional 1000 Startup Facilitator Gapura Digital by Google
Inisiator SMART UP Semarang Startup. Ben membuka dengan kalimat nyentrik:
“Pengusaha bisa lebih sukses tapi mertua lebih percaya PNS”. Namun, Ben justru
menyatkan bahwa kaum milenial terjun ke dunia startup, bukan karena perkara
mendapatkan uang banyak, namun justru untuk pemecahan masalah di daerah dan
masyarakat di sekitarnya. Ben menempuh pendidikan tingginya di Semarang, dan ia
sadar bahwa ia berakar di Semarang dan harus membantu menyelesaikan
masalah-masalah di sekitar Kota Semarang. Di sisi lain, Ben juga terlibat
dengan lindungihutan.com, karena ia sadar akan keinginan jiwanya untuk membantu
memfasilitasi hal-hal yang bermasalah tentang hutan dan pertanahan. Ben
mengungkapkan 4 dari 8 startup unicorn yang ada di Asia Tenggara berasal dari
Indonesia. Mereka adalah Gojek, Tokopedia, Traveloka, dan Bukalapak. Namun,
masih 3% dari penduduk Indonesia tergolong sebagai pengusaha, lebih rendah
dibandingkan 5 persen di Malaysia dan 7 persen di Singapura. Oleh karena itu,
Ben menyarankan agar pejabat pemerintah, entrepreneur yang sudah lama
berbisnis, dan akademisi agar sering-sering bersama-sama bertemu dengan kawula
muda, agar muncul lebih banyak anak muda yang mau memecahkan masalah yang ada
di tengah-tengah masyarakat.
3.
The
Future of Lake Toba Tourism (BOPDT)
Bapak Rommy
Fauzi menyampaikan bahwa di tingkat nasional dan di tingkat kementrian,
pengembangan dan pengelolaan pariwisata telah menjadi pusat perhatian dari
berbagai kementrian. Negara telah menyadari dampak positif yang luas dan
mendalam yang akan diakibatkan dari pengembangan dan pengelolaan pariwisata
yang berkelanjutan, sehingga, telah menaruh perhatian yang besar kepada hal-hal
yang menyangkut kepariwisataan. Oleh karena itu, seharusnya anak muda, melalui
teknologi, juga diikutkan dalam pemecahan masalah yang ada. Namun, perlu
diberikan pembukaan wawasan lewat pendidikan di daerah lokal sehingga lebih
banyak lagi anak-anak muda yang ada di Kawasan Danau Toba mau ikut membantu
dalam memecahkan masalah yang ada di Kawasan Danau Toba. Pemerintah telah
menginisiasi dan memfasilitasi berbagai hal seperti penerbangan Bandara
Silangit – Kuala Lumpur, kapal ferry KMP Ihan Batak, berbagai event musik,
kesenian, dan olahraga, pelatihan Bahasa Inggris di Sigapiton, dan peningkatan
di Bandara Sibisa serta pembuatan masterplan
di Sibisa. Terlebih lagi terdapat upaya untuk menjadikan Kawasan Danau
Toba sebgai ‘single destination, single
management’ atau Toba sebgai satu tempat tujuan wisata yang memiliki satu sistem
pengelolaan, yang pastinya dibantu dan diawasi oleh dukungan teknologi
informasi dan komunikasi. Tentunya, masih ada berbagai hal yang harus
dilengkapi dari hal-hal tersebut. Kekurangan tersebut ialah peluang yang dapat
dimanfaatkan oleh anak-anak muda yang ingin memecahkan permasalahan yang
berakar di Kawasan Danau Toba. Agar masyarakat lokal tidak hanya menjadi
penonton, perlu ditingkatkan pertemuan dan ajang networking antara anak muda
yang mengerti teknologi, dan pihak pemerintah. Sehingga pemerintah dapat
memfasilitasi kebutuhan yang muncul ataupun mempertemukan dengan pihak-pihak
yang tertarik dan dapat membantu pemecahan masalah tersebut. Bapak Rommy Fauzi selaku
Direktur Industri, Pariwisata
dan Kelembagaan Kepariwisataan (DIPKK) pada Badan Pelaksana Otorita
Danau Toba (BPODT), menyatakan dirinya siap untuk dijumpai
oleh akademisi ataupun anak muda yang ingin didukung dalam memecahkan masalah
yang berakar dari Kawasan Danau Toba. Keinginan dan inisiatif masyarakat lokal
untuk aktif dan dalam pemecahan masalah, harus didukung oleh pemerintah.
4.
Bank
Access for Area Head Bank Mandiri (Bapak Wahyu Binuko)
Bapak Wahyu Binuko, atau yang akrab
dipanggil Pak Wabin, menyampaikan paparan tentang ‘Bank Loan For Startup’ atau
pinjaman dari bank untuk perusahaan rintisan. Bank Mandiri sudah tidak asing
lagi dalam berkerjasama dengan pihak-pihak yang ada di Kawasan Danau Toba,
misalnya seperti Yayasan Del lewat Institut Teknologi Del. Artinya, bank adalah
salah satu pilihan yang tepat bagi perusahaan rintisan yang membutuhkan uang
sebagai modal mengembangkan bisnisnya. Misalnya, Wirausaha Muda Mandiri yang
sudah dikenal sangat sederhana dalam memenuhi kebutuhan perusahaan rintisan.







No comments:
Post a Comment