Wednesday, November 21, 2018

[PART-01] Mendapat ilmu di TOBA ENTREPRENEURSHIP FESTIVAL (TEF) 2018 (brought to you by: Institut Teknologi Del , Badan Pelaksana Otorita Danau Toba (BPODT) , etc. )

TOBA ENTREPRENEURSHIP FESTIVAL (TEF) 2018

THE BIGGEST ENTREPRENEURSHIP WEEKEND
IN
LAKE TOBA AREA

(brought to you by: Institut Teknologi Del , Badan Pelaksana Otorita Danau Toba (BPODT) , etc.  )


Pada kesempatan kali ini, blog ini akan berbagi ilmu yang diidapat dari TEF 2018. 
Let's check it out!



1.    Welcome and Intro: Ricardo Situmeang

Ricardo Situmeang adalah seorang dosen dari Institut Teknologi Del. Beliau juga terlibat dalam penyelenggaraan TEF 2018. Beliau menyampaikan bahwa SDM di Kawasan Danau Toba memiliki keuntungan dalam membangun startup di Kawasan Danau Toba karena memiliki pengetahuan dan pengalaman yang seharusnya lebih luas dan mendalam tentang kondisi pasar Kawasan Danau Toba. Beliau juga mengapresiasi usaha dan kepedulian dari BPODT terhadap pengembangan pendidikan dan penggunaan pemanfaatan teknologi di Kawasan Danau Toba. Beliau berharap agar upaya pengembangan dan pengelolaan pendidikan di Kawasan Danau Toba dapat meningkatkan SDM lokal dan meningkatkan ekosistem bisnis di Kawasan Danau Toba dari. Event seperti TEF, dapat membuka wawasan mahasiswa dan meningkatkan ketertarikan untuk merintis usaha bisnis yang memecahkan permasalahan di Kawasan Danau Toba.

2.    From Idea to Execution (How to prepare future entrepreneurs) (GERAKAN 1000 STARTUP)



Miftachur Robani atau akrab dipangil Ben, merupakan Chief Marketing Officer LindungiHutan Facilitator Gerakan Nasional 1000 Startup Facilitator Gapura Digital by Google Inisiator SMART UP Semarang Startup. Ben membuka dengan kalimat nyentrik: “Pengusaha bisa lebih sukses tapi mertua lebih percaya PNS”. Namun, Ben justru menyatkan bahwa kaum milenial terjun ke dunia startup, bukan karena perkara mendapatkan uang banyak, namun justru untuk pemecahan masalah di daerah dan masyarakat di sekitarnya. Ben menempuh pendidikan tingginya di Semarang, dan ia sadar bahwa ia berakar di Semarang dan harus membantu menyelesaikan masalah-masalah di sekitar Kota Semarang. Di sisi lain, Ben juga terlibat dengan lindungihutan.com, karena ia sadar akan keinginan jiwanya untuk membantu memfasilitasi hal-hal yang bermasalah tentang hutan dan pertanahan. Ben mengungkapkan 4 dari 8 startup unicorn yang ada di Asia Tenggara berasal dari Indonesia. Mereka adalah Gojek, Tokopedia, Traveloka, dan Bukalapak. Namun, masih 3% dari penduduk Indonesia tergolong sebagai pengusaha, lebih rendah dibandingkan 5 persen di Malaysia dan 7 persen di Singapura. Oleh karena itu, Ben menyarankan agar pejabat pemerintah, entrepreneur yang sudah lama berbisnis, dan akademisi agar sering-sering bersama-sama bertemu dengan kawula muda, agar muncul lebih banyak anak muda yang mau memecahkan masalah yang ada di tengah-tengah masyarakat.

3.    The Future of Lake Toba Tourism (BOPDT)

Bapak Rommy Fauzi menyampaikan bahwa di tingkat nasional dan di tingkat kementrian, pengembangan dan pengelolaan pariwisata telah menjadi pusat perhatian dari berbagai kementrian. Negara telah menyadari dampak positif yang luas dan mendalam yang akan diakibatkan dari pengembangan dan pengelolaan pariwisata yang berkelanjutan, sehingga, telah menaruh perhatian yang besar kepada hal-hal yang menyangkut kepariwisataan. Oleh karena itu, seharusnya anak muda, melalui teknologi, juga diikutkan dalam pemecahan masalah yang ada. Namun, perlu diberikan pembukaan wawasan lewat pendidikan di daerah lokal sehingga lebih banyak lagi anak-anak muda yang ada di Kawasan Danau Toba mau ikut membantu dalam memecahkan masalah yang ada di Kawasan Danau Toba. Pemerintah telah menginisiasi dan memfasilitasi berbagai hal seperti penerbangan Bandara Silangit – Kuala Lumpur, kapal ferry KMP Ihan Batak, berbagai event musik, kesenian, dan olahraga, pelatihan Bahasa Inggris di Sigapiton, dan peningkatan di Bandara Sibisa serta pembuatan masterplan  di Sibisa. Terlebih lagi terdapat upaya untuk menjadikan Kawasan Danau Toba sebgai ‘single destination, single management’ atau Toba sebgai satu tempat tujuan wisata yang memiliki satu sistem pengelolaan, yang pastinya dibantu dan diawasi oleh dukungan teknologi informasi dan komunikasi. Tentunya, masih ada berbagai hal yang harus dilengkapi dari hal-hal tersebut. Kekurangan tersebut ialah peluang yang dapat dimanfaatkan oleh anak-anak muda yang ingin memecahkan permasalahan yang berakar di Kawasan Danau Toba. Agar masyarakat lokal tidak hanya menjadi penonton, perlu ditingkatkan pertemuan dan ajang networking antara anak muda yang mengerti teknologi, dan pihak pemerintah. Sehingga pemerintah dapat memfasilitasi kebutuhan yang muncul ataupun mempertemukan dengan pihak-pihak yang tertarik dan dapat membantu pemecahan masalah tersebut. Bapak Rommy Fauzi selaku Direktur Industri, Pariwisata dan Kelembagaan Kepariwisataan (DIPKK) pada Badan Pelaksana Otorita Danau Toba (BPODT), menyatakan dirinya siap untuk dijumpai oleh akademisi ataupun anak muda yang ingin didukung dalam memecahkan masalah yang berakar dari Kawasan Danau Toba. Keinginan dan inisiatif masyarakat lokal untuk aktif dan dalam pemecahan masalah, harus didukung oleh pemerintah. 

4.    Bank Access for Area Head Bank Mandiri (Bapak Wahyu Binuko)




Bapak Wahyu Binuko, atau yang akrab dipanggil Pak Wabin, menyampaikan paparan tentang ‘Bank Loan For Startup’ atau pinjaman dari bank untuk perusahaan rintisan. Bank Mandiri sudah tidak asing lagi dalam berkerjasama dengan pihak-pihak yang ada di Kawasan Danau Toba, misalnya seperti Yayasan Del lewat Institut Teknologi Del. Artinya, bank adalah salah satu pilihan yang tepat bagi perusahaan rintisan yang membutuhkan uang sebagai modal mengembangkan bisnisnya. Misalnya, Wirausaha Muda Mandiri yang sudah dikenal sangat sederhana dalam memenuhi kebutuhan perusahaan rintisan.

No comments:

Post a Comment