Tuesday, November 20, 2018

TOBA ENTREPRENEURSHIP FESTIVAL (TEF) 2018 (brought to you by: Institut Teknologi Del , Badan Pelaksana Otorita Danau Toba (BPODT) , etc. )


TOBA ENTREPRENEURSHIP FESTIVAL (TEF) 2018

THE BIGGEST ENTREPRENEURSHIP WEEKEND
IN
LAKE TOBA AREA

(brought to you by: Institut Teknologi Del , Badan Pelaksana Otorita Danau Toba (BPODT) , etc.  )

Toba Entrepreneurship Festival (Festival Kewirausahaan Toba) adalah sebuah acara yang melibatkan para pemimpin bisnis lokal, startup dan eCommerce dan profesional yang di dalam dua hari di akhir pekan, Hari Kamis dan Hari Jumat, tanggal 9-10 November 2018. Acara ini merupakan ‘pekan kewirausahaan’ di Kawasan Danau Toba.
Kenapa acara ini menarik untuk diikuti?
Lewat acara ini, peserta dapat memangun jaringan dan hubungan melalui koneksi dengan investor, pendiri, pemilik bisnis dan mentor dengan orang-orang yang cerdas dan berpikiran sama.
Kompetisi
Kegiatan utama dalam TEF adalah Business Plan Competition 2018 dengan tema "Rural Entrepreneurship for Industry 4.0". Hal tersebut ialah
kompetisi rencana bisnis dengan tema "Kewirausahaan Pedesaan untuk Industri 4.0".
dan 

Acara ini mengharuskan peserta untuk mengembangkan ide bisnis yang layak dan inovatif dan delakukan presentasi di depan juri dan investor. BPC ini ditujukan untuk mahasiswa dari seluruh Indonesia yang terdiri dari 2-3 orang per tim. Dari proposal terbaik akan masuk ke tahap akhir sebgai finalis. Semua peserta akan berusaha mencari solusi di pedesaan dengan mempertimbangkan teknologi. Dari 42 proposal yang diterima, 10 tim dengan proposal terbaik dipilih sebagai finalis, yaitu:
No
Nama Kelompok
Judul Proposal
Universitas
1
Slation
Aplikasi Penyelia Pemandu Wisata Ketoba
USUMedan
2
Yu See
CY CRASH Pelet Tinggi Nutrisi
IPB Bogor
3
Ketan
Bantu Tani
IT Del Laguboti
4
Koedetta
Toko Bergerak Olahan Nenas
IT Del Laguboti
5
Eleizer
SMAGRO
IT Del Laguboti
6
Yafiza Team
KAKOTA" Kampung Kopi Tradisional Dampit Solusi Cerdas Atasi Desa Tertinggal Sebagai Desa Pariwisata dengan Media
Universitas Brawijaya Malang
7
Wanita Tangguh
On Care : Informasi Layanan Kesehatan dengan bantuan GPS Near Me
IT Del Laguboti
8
Mothers Pray
My Toba Assistant: Apps asistant perjalanan wisata danau toba
USU Medan
9
Tim Nauli
Toba Plan (Aplikasi Perencana Wisata dan Event Danau Toba)
IT Del Laguboti
10
Stockasstic
Aplikasi Personalised Assistant bagi Investor Saham Pemula
ITB Bandung



 Sharing Session
Pada TEF, juga diadakan seminar yang membuka wawasan. Berikut adalah daftar yang berbicara dari panggung atau live video conference: 

1.    Rommy Fauzi

Direktur Industri, Pariwisata
dan Kelembagaan Kepariwisataan (DIPKK) pada Badan Pelaksana Otorita Danau Toba (BPODT)
Sebelum BPODT, ia bertanggung jawab atas Manajemen Data, Integrasi Data, EAI / Middleware, Analytics, Intelijen Bisnis, Perencanaan Sumber Daya Perusahaan, Penemuan Informasi, dan Arsitektur & Keamanan Bisnis Perusahaan Arsitektur di beberapa perusahaan perangkat lunak

2.    Frederik Situmeang, Associate Professor Universitas Amsterdam

Frederik Situmeang sejak Agustus 2016 adalah Associate Professor of Digital Innovation and Marketing di Amsterdam School of International Business dari Amsterdam University of Applied Sciences (AUAS). Dia berafiliasi dengan Centre for Applied Research on Economics & Management
(Pusat Penelitian Terapan tentang Ekonomi & Manajemen) AUAS. Dia juga berafiliasi dengan Centre for Market Insights (Pusat Wawasan Pasar) AUAS. Frederick Situmeang juga mengajar di dalam Program Pre-Master, sebuah kerjasama antara Insitut Teknologi Del dan Universiteit van Amsterdam.

3.    Pamitra Wineka, Co Founder Tanigroup

Pamitra adalah salah satu pendiri dan presiden
dari TaniGroup, startup AgTech (teknologi agrikultur) terkemuka di Indonesia yang bertujuan membantu petani kecil Indonesia mendapatkan akses yang lebih baik ke pasar dan keuangan melalui platform e-commerce, TaniHub, dan platform crowdlending, TaniFund. Saat ini ada 20.000 petani mitra terdaftar di TaniGroup yang memasok produk hortikultura, unggas, dan akuakultur dari seluruh Indonesia.
 
4.    Josephine Sembiring, Founder Pak Tani Digital

Josephine Sembiring, seorang dosen dan pengusaha yang memiliki minat dalam industri kreatif sejak tahun 2014. Ia menerima penghargaan sebagai Pengusaha Muda Mandiri Nasional pada tahun 2016. Ia juga menjadi Direktur di PT. Hagatekno Mediata Indonesia, perusahaan IT dengan konsep bisnis berbagi yang telah melahirkan sejumlah StarUp yaitu Digital Farmers, Technicians, Toba Smile.

5.    Hendra Tjanaka, CEO OF MAPAN

Hendra adalah orang di balik merek yang memimpin dan menumbuhkan Mapan menjadi salah satu jaringan agen berpengaruh terbesar dengan 2 juta anggota hari ini - hanya dalam 3 tahun. Sekarang, sebagai CEO Mapan Hendra memimpin tim sekitar 2.000 karyawan untuk mencapai misinya dalam meningkatkan kehidupan keluarga berpenghasilan rendah di Indonesia.

6.    Helmut Ramseur, Founder Silicon Vilstal

Helmut Ramseur adalah pendiri
dari Silicon Vilstal dari daerah Lower Bavaria, Negara Jerman. Silicon Vilstal adalah inisiatif regional pribadi yang berkisar pada inovasi, kewirausahaan, dan kreativitas. Wilayah timur laut dari Kota Munich, oleh Vilsbiburg dan Geisenhausen, telah terhubung dengan proyek-proyek regional lainnya sebagai bagian dari inisiatif nasional yang disebut "Wilayah Digital",  yang memungkinkan ide-ide inovatif untuk terungkap dari daerah desa. 

7.    Christopher Angkasa, Founder Clapham Co

Christopher Angkasa adalah anggota
dari sebuah bisnis keluarga generasi ke-3 yang berbasis di Medan, Sumatra Utara, Indonesia. Bisnis ini termasuk industri seperti manufaktur plastik, budidaya udang, bank tanah, dan Food & Beverage. Dia telah aktif dalam mengelola dana yang berbasis nilai, sebagai ‘malaikat investasi’ bagi startup digital (di Indonesia), dan mendirikan perusahaan konsultan keuangan. Salah satu proyek terbarunya adalah Clapham Collective (@claphamco), yang merupakan tempat kerja (co-working space) yang memudahkan startup untuk saling berdiskusi memecahkan masalah dan menemukan solusi. 

8.    David Hutagalung, Country Director dari General Electric

David Hutagalung saat ini adalah Direktur GE untuk bisnis Tenaga Listrik di
Negara Indonesia, posisi yang dia ambil pada bulan September 2016. David bertanggung jawab atas pengembangan strategi keseluruhan untuk bisnis tenaga listrik di Indonesia, termasuk strategi penangkapan / penutupan pada transaksi penting , dan berkoordinasi dengan P & L Sales Leaders and Sales Teams di daerah-daerah. 

9.    Dayu Dara Permata, Co-Founder Go-life

Dayu Dara Permata adalah Wakil Presiden Senior GO-JEK, dan salah satu pendiri GO-LIFE yang merupakan divisi gaya hidup GO-JEK. Dia pernah menjadi mentor termuda untuk Program Pemimpin Eksekutif SMU (LoP) dan memiliki pengalaman lama bekerja dengan PT XL Axiata dan Mc Kinsey and Company.

Dayu Dara adalah Co-Founder dari Go-Life. Karirnya berawal ketika lulus S1 dari Fakultas Teknik Industri ITB. Selulus S1, Dara memilih Axiata sebagai pelabuhan pertamanya tepatnya di Divisi Corporate Strategy.
Setelah setahun bekerja di Axiata, Dayu Dara hijrah ke McKinsey untuk mengejar cita-citanya sebagai konsultan.
Awal tahun 2015, sesama alumni McKinsey, yakni Nadiem Makarim menawarkan Dayu untuk menjadi Co-Founder di lini nontransportasi yang kini menjadi Go-Life. Nadiem juga mengatakan kepada Dara “Orang seperti kita ini seharusnya memberikan pekerjaan kepada orang lain bukan mencari pekerjaan.”
Kini, ia menjabat sebagai Vice President PT Aplikasi Karya Anak Bangsa yang menaungi Go-Jek. Secara fungsional, ia adalah Co-Founder di lini layanan jasa rumah tangga yakni Go-Life yang meliputi Go-Massage, Go-Clean, Go-Glam, dan Go-Tix.
 
10.  Trisnayati Pardede, Founder Batikta

Trisnayati mengawali Batikta dari rumahnya. Sekarang, Batikta telah mempunya sebuah tempat yang dinamai Lamuro Square, berlokasi di Kabupaten Toba Samosir, yang merupakan gabungan tempat belanja souvenir, restoran, dan kafe. Batikta membawa motif ulos dan ornamen Batak ke kain baju yang telah dipakai secara luas. Hal ini membuktikan peran swasta dalam mengembangkan potensi daerah pedesaan. 

11.  Erick dan William Kwok, mapaya.id

Konon, Mapaya adalah singkatan dari ‘Makan Apa Ya?’. Lewat perusahaan ini, konsumen dapat memesan menu hingga 7 hari ke depan. Hal yang memudahkan untuk urusan konsumsi dalam acara pesta dan kegiatan kantor.






Paparan

1.    Welcome and Intro: Ricardo Situmeang

Ricardo Situmeang adalah seorang dosen dari Institut Teknologi Del. Beliau juga terlibat dalam penyelenggaraan TEF 2018. Beliau menyampaikan bahwa SDM di Kawasan Danau Toba memiliki keuntungan dalam membangun startup di Kawasan Danau Toba karena memiliki pengetahuan dan pengalaman yang seharusnya lebih luas dan mendalam tentang kondisi pasar Kawasan Danau Toba. Beliau juga mengapresiasi usaha dan kepedulian dari BPODT terhadap pengembangan pendidikan dan penggunaan pemanfaatan teknologi di Kawasan Danau Toba. Beliau berharap agar upaya pengembangan dan pengelolaan pendidikan di Kawasan Danau Toba dapat meningkatkan SDM lokal dan meningkatkan ekosistem bisnis di Kawasan Danau Toba dari. Event seperti TEF, dapat membuka wawasan mahasiswa dan meningkatkan ketertarikan untuk merintis usaha bisnis yang memecahkan permasalahan di Kawasan Danau Toba.

2.    From Idea to Execution (How to prepare future entrepreneurs) (GERAKAN 1000 STARTUP)



Miftachur Robani atau akrab dipangil Ben, merupakan Chief Marketing Officer LindungiHutan Facilitator Gerakan Nasional 1000 Startup Facilitator Gapura Digital by Google Inisiator SMART UP Semarang Startup. Ben membuka dengan kalimat nyentrik: “Pengusaha bisa lebih sukses tapi mertua lebih percaya PNS”. Namun, Ben justru menyatkan bahwa kaum milenial terjun ke dunia startup, bukan karena perkara mendapatkan uang banyak, namun justru untuk pemecahan masalah di daerah dan masyarakat di sekitarnya. Ben menempuh pendidikan tingginya di Semarang, dan ia sadar bahwa ia berakar di Semarang dan harus membantu menyelesaikan masalah-masalah di sekitar Kota Semarang. Di sisi lain, Ben juga terlibat dengan lindungihutan.com, karena ia sadar akan keinginan jiwanya untuk membantu memfasilitasi hal-hal yang bermasalah tentang hutan dan pertanahan. Ben mengungkapkan 4 dari 8 startup unicorn yang ada di Asia Tenggara berasal dari Indonesia. Mereka adalah Gojek, Tokopedia, Traveloka, dan Bukalapak. Namun, masih 3% dari penduduk Indonesia tergolong sebagai pengusaha, lebih rendah dibandingkan 5 persen di Malaysia dan 7 persen di Singapura. Oleh karena itu, Ben menyarankan agar pejabat pemerintah, entrepreneur yang sudah lama berbisnis, dan akademisi agar sering-sering bersama-sama bertemu dengan kawula muda, agar muncul lebih banyak anak muda yang mau memecahkan masalah yang ada di tengah-tengah masyarakat.

3.    The Future of Lake Toba Tourism (BOPDT)

Bapak Rommy Fauzi menyampaikan bahwa di tingkat nasional dan di tingkat kementrian, pengembangan dan pengelolaan pariwisata telah menjadi pusat perhatian dari berbagai kementrian. Negara telah menyadari dampak positif yang luas dan mendalam yang akan diakibatkan dari pengembangan dan pengelolaan pariwisata yang berkelanjutan, sehingga, telah menaruh perhatian yang besar kepada hal-hal yang menyangkut kepariwisataan. Oleh karena itu, seharusnya anak muda, melalui teknologi, juga diikutkan dalam pemecahan masalah yang ada. Namun, perlu diberikan pembukaan wawasan lewat pendidikan di daerah lokal sehingga lebih banyak lagi anak-anak muda yang ada di Kawasan Danau Toba mau ikut membantu dalam memecahkan masalah yang ada di Kawasan Danau Toba. Pemerintah telah menginisiasi dan memfasilitasi berbagai hal seperti penerbangan Bandara Silangit – Kuala Lumpur, kapal ferry KMP Ihan Batak, berbagai event musik, kesenian, dan olahraga, pelatihan Bahasa Inggris di Sigapiton, dan peningkatan di Bandara Sibisa serta pembuatan masterplan  di Sibisa. Terlebih lagi terdapat upaya untuk menjadikan Kawasan Danau Toba sebgai ‘single destination, single management’ atau Toba sebgai satu tempat tujuan wisata yang memiliki satu sistem pengelolaan, yang pastinya dibantu dan diawasi oleh dukungan teknologi informasi dan komunikasi. Tentunya, masih ada berbagai hal yang harus dilengkapi dari hal-hal tersebut. Kekurangan tersebut ialah peluang yang dapat dimanfaatkan oleh anak-anak muda yang ingin memecahkan permasalahan yang berakar di Kawasan Danau Toba. Agar masyarakat lokal tidak hanya menjadi penonton, perlu ditingkatkan pertemuan dan ajang networking antara anak muda yang mengerti teknologi, dan pihak pemerintah. Sehingga pemerintah dapat memfasilitasi kebutuhan yang muncul ataupun mempertemukan dengan pihak-pihak yang tertarik dan dapat membantu pemecahan masalah tersebut. Bapak Rommy Fauzi selaku Direktur Industri, Pariwisata dan Kelembagaan Kepariwisataan (DIPKK) pada Badan Pelaksana Otorita Danau Toba (BPODT), menyatakan dirinya siap untuk dijumpai oleh akademisi ataupun anak muda yang ingin didukung dalam memecahkan masalah yang berakar dari Kawasan Danau Toba. Keinginan dan inisiatif masyarakat lokal untuk aktif dan dalam pemecahan masalah, harus didukung oleh pemerintah. 

4.    Bank Access for Area Head Bank Mandiri (Bapak Wahyu Binuko)




Bapak Wahyu Binuko, atau yang akrab dipanggil Pak Wabin, menyampaikan paparan tentang ‘Bank Loan For Startup’ atau pinjaman dari bank untuk perusahaan rintisan. Bank Mandiri sudah tidak asing lagi dalam berkerjasama dengan pihak-pihak yang ada di Kawasan Danau Toba, misalnya seperti Yayasan Del lewat Institut Teknologi Del. Artinya, bank adalah salah satu pilihan yang tepat bagi perusahaan rintisan yang membutuhkan uang sebagai modal mengembangkan bisnisnya. Misalnya, Wirausaha Muda Mandiri yang sudah dikenal sangat sederhana dalam memenuhi kebutuhan perusahaan rintisan.

5.    What founders mostly failures and success during building startups (Christoper Angkasa from Clapham Collective Medan)

Akrab dipanggil Chris, Founder dari Clapham ini menyatakan bahwa SDM lokal seharusnya adalah yang paling mengerti masalah di daerahnya dan yang jika memiliki niat memecahkan masalah, berkeinginan untuk berkolaborasi, dan mau belajar teknologi, akan dapat memecahkan masalah yang ada tersebut. Chris mengapresiasi usaha dan kepedulian dari BPODT terhadap pengembangan pendidikan dan penggunaan pemanfaatan teknologi di Kawasan Danau Toba. Masalah di ekosistem wirausaha di Kawasan Danau Toba, adalah seperti pertayaan telur dan ayam. Antara apakah ekosistem harus bagus dulu baru SDM mau berbisnis dan memecahkan masalah di Kawasan Danau Toba, atau SDM lokal mau berkembang bersama-sama dalam memperbaiki dan membangun ekosistem yang ada? Chris menyatakan mulai dari startup digitalisasi logistik/rantai pasok terhadap petani hingga startup unicorn Indonesia, sebenarnya mereka adalah sekumpulan orang yang mencoba menyelesaikan masalah yang berakar dari daerah tempat tinggalnya. Mereka dulunya menjalankan bisnis tradisional yang sekarang dikelola secara digital karena skala yang sudah terlalu luas. Sebagai contoh, Chris mengangkat kisah Go-Jek yang dulunya memakai platform telepon, dan baru memakai platform internet lewat mobile apps setelah skala trafik pasokan jumlah ojek dan permintaan pelanggan sudah terlalu berat dan besar untuk ditanggapi via telepon.

6.    How to Build Entrepreneurship Mindset in Rural Area (Hendra Tjanaka, PT MAPAN)
MAPAN merupakan sekumpulan orang-orang yang ingin memberikan dampak kepada masyarakat di pedesaan yang kekurangan akses ke barang-barang berkualitas dan kekurangan opsi pembiayaan/pembayaran. Salah satunya adalah kerjasama dengan komunitas-komunitas yang ada di pedesaaan lewat arisan. Arisan adalah suatu hal tradisional yang dengan MAPAN, diberikan sedikit sentuhan teknologi sehingga mampu memberikan dampak yang lebih luas kepada peningkatan kualitas hidup masyakarat di pedesaan. 
Christoper Angkasa adalah seorang investor profesional. Dia telah berinvestasi sejak 2007. Dia aktif berinvestasi di pasar AS, Singapura, dan Indonesia. Selain berinvestasi, Christoper juga menulis tentang pasar Indonesia di flog.co.id, situs web yang ia dirikan untuk menyalurkan pemikirannya. Dia saat ini aktif berinvestasi melalui Little Lights Capital, dan Denali Mitra. Chris juga mendirikan Clapham Collective, sebuah ruang inkubator di Medan.

7.    How Technology Changing The Face of Indonesian Agriculture (Josephine Sembiring from Pak Tani Digital)

Josephnie Sembiring dan Mahendra Sitepu (sebagai Founder) memiliki ide dan tujuan yang sama, yaitu adanya marketplace onlinedigital bagi produk yang langsung dari petani ke konsumen. Ternyata salah satu masalah utama adalah harga yang tidak transparan. Hal inilah yang dicoba untuk dipecahkan oleh Pak Tani Digital (PTD). Tidak dipungkiri, Founder dan Co-Founder dari PTD memiliki akar yang dekat dengan permasalahan pertanian di Sumatera Utara. Namun, dunia digital-online tidak menutup pintu agar aplikasi mereka juga sudah terkenal dan digunakan oleh petani di berbagai tempat di Indonesia. Untuk memenuhi kebutuhan operasional, PTD masih mengharapkan uang hadiah dari berbagai kompetisi yang diikutinya. Selain itu, lewat PT. Hagatekno Mediata Indonesia, berkerjasama dengan BPODT dan Bank Indonesia, sedang mengembangkan aplikasi Toba Smile. https://www.instagram.com/tobasmilecom

8.    Social Innovation for Smart Region (Experience from Silicon Vilstal Germany) (Helmut Ramseur)
Silicon Vistal dirancang, salah satunya, untuk menemukan kebutuhan keinginan, dan masalah-masalah yang bahkan tersembunyi yang bahkan masyarakat atau konsumen sendiri tidak mengetahuinya, kuhususnya di daerah pedesaan. Sehingga solusi yang dihasilkan sebisa mungkin tidak meimbulkan masalah lain secara menyeluruh. Terlebih lagi, permasalhan di desa sering kali berbeda dengan masalah di kota. Seorang pendiri dari Silicon Vilstal adalah Helmut Ramseur. Silicon Vilstal adalah inisiatif regional pribadi yang berkisar pada inovasi, kewirausahaan, dan kreativitas. Wilayah timur laut dari Kota Munich, oleh Vilsbiburg dan Geisenhausen, telah terhubung dengan proyek-proyek regional lainnya sebagai bagian dari inisiatif nasional yang disebut "Wilayah Digital",  yang memungkinkan ide-ide inovatif untuk terungkap dari daerah desa. Helmut Ramseur menyatakan bahwa inovasi sosial dengan bantuan teknologi digital-online adalah kunci bagi ekosistem kewirausahaan di pedesaan. Silicon Vistal, telah mengadakan kerjasama di Kawasan Danau Toba dalam hal Agro-Wisata, sebuah proyek yang baru dimulai di tahap diskusi dan seminar.

9.    Transition from Conventional Agriculture into Digital World (Pamitra Wineka, Co-Founder of Tani Hub)
Pamitra Wineka percaya bahwa Fintech (teknologi keuangan) dapat menjadi game changer yang membawa perubahan di sekotr agrikultur. Agrikultur menjadi sasaran Fintech karena pada tahun 2016 menurut BPS, Kementrian Pertanian, dan Kementrian Kelautan dan Perikanan,  13,45% dari Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia berasal dari agrikultur dan perikanan. Porsi kedua terbesar setelah 20,51% dari manufaktur. Namun kondisi petani di Indonesia masih butuh banyak dukungan. Tani Hub hadir untuk membantu petani, nelayan, dan peternak, agar hasil panennya lebih mudah dibeli oleh retail, industry, hotel, restoran, catering, dan ekportir. Sehingga, dengan teknologi digital-online ini, tidak ada lagi perantara atau tengkulak. Selain itu juga ada Tani Fund yang dapat membantu kampanye crowdfunding dan KUR. Dengan begitu, Tani Hub dan Tani Fund memperkuat ekosistem bersama-sama dengan pihak bank yang biasanya memberikan pinjaman dana dan asuransi.

10.  How Millenials should prepared for Industry 4.0 (David Hutagalung, Country Director GE Electric)

Sepak terjang General Electric (GE) di Indonesia sudah dimulai sejak 75 tahu yang lalu. Perusahaan ini sendiri telah berdiri di Amerika Serikat sejak 126 tahun yang lalu, oleh Thomas Alva Edison. Sebagai salah satu direktur GE di Indonesia, David Hutagalung menyatakan GE bergerak di bidang energi, tenaga listrik, dan transportasi, serta menjadi penyedia berbagai peralatan medis yang dipakai di Indonesia. Selain menyuplai mesin di kereta api dan mesin di pembangkit listrik, GE juga banyak menyuplai MRI, CR-Scan, USG, dan Mammography di berbagai rumah sakit Indonesia. 
Bapak David Hutagalung merupakan salah satu keynote speaker TEF 2018 yang juga memberikan ilmunya dan motivasinya kepada para audience yang hadir pada saat acara TEF. Dia mengungkapkan bahwa GE Indonesia dapat membentuk pengolahan pemasaran energi dari dan di Indonesia 
David Hutagalung merupakan Direktur Penjualan Regional, ASEAN GE Transportation & President Director PT GE Operations Indonesia.
Sebelum bergabung dengan PT.GE, David pernah menjadi Presiden Indonesian Student Association (Permias), Washington D.C., periode 1999-2000. Ia juga sempat berkarier di US-ASEAN Business Council sebagai resource centre bagi investor AS mengenai ekonomi maupun politik.
David memulai karirnya dengan GE pada tahun 2007 sebagai Direktur Pengembangan Pasar untuk GE Indonesia.
Setelah itu, David memegang posisi Direktur Kebijakan dan Hubungan Pemerintah GE untuk ASEAN, di mana ia memimpin dan mengelola hubungan energi pemerintah di seluruh Asia Tenggara untuk GE Energy Services.
Menurut David, Indonesia memiliki potensi pasar yang sangat besar untuk hampir semua unit bisnis .

11.  Entrepreneurs Panel (Local entrepreneurs questions and answer)




Pada diskusi panel ini, peserta dan panelis melakukan tanya jawab. Dipandu oleh Ricardo Situmeang, Eric Wijaya dari mapaya.id dan Trisnayanti Pardede dari Batikta menjawab pertanyaan-pertanyaan dari mahasiswa seperti sedang ngobrol. 
Panel diskusi bersama Malaya dan Batita yang menawarkan produk mereka kepada para konsumen dan audience yang hadir di Toba Entrepreneurship Festival 2018. 

12.  Mentorship Session from Gerakan 1000 Startup (Revolutionizing Service Sector: Experience from GO LIFE) (Dayu Dara Permata Vice President of Gojek Indonesia)
Dayu menyatakan bahwa Go-Jek meskipun sudah dianggap Super App (aplikasi yang memiliki sangat banyak fitur dalam 1 platform, all in one), namun tetap menjaga budaya startup dan rasa ingin belajar. Aplikasi Go-Jek menghubungkan 90 juta pemakainya dengan jutaan penyedia jasa. Dayu menyarankan agar para milenial calon entrepreneur di Kawasan Danau Toba berfokus pada pemecahan masalah, bukan kepada menciptakan atau mempertahankan alat-alat atau tools-nya, karena platform atau teknologi yang dipakai bisa saja berubah, namun tujuannya tetap sama. Dayu juga menyatakan bahwa adalah wajar bila suatu aplikasi memiliki keterbatasan, karena hal ini memungkinkan fokus pada hal-hal yang belum pernah diberikan oleh perusahaan-perusahaan sebellumnya. Slah satu contoh yang diambil adalah AirBnB, sebuah perusahaan yang mempermudah turis untuk menginap di rumah-rumah warga yang memiliki kamar kosong. AirBnB tidak membangun hotel atau memiliki rumah, AirBnB hanya hanya terbatas pada memberikan pilihan-pilihan yang bisa diakses.

13.  Right Costumer, Right Offer, Right Channel and Right Time (DR Frederick Situmeang)





Bagi mahasiswa IT Del, Frederick Situmeang dikenal sebagai pengajar di dalam Program Pre-Master, sebuah kerjasama antara Insitut Teknologi Del dan Universiteit van Amsterdam. Pada TEF 2018, beliau berbicara tentang Marketing Management (Pengeloloaan Pemasaran). Frederick menyatakan produk dan pelayanan harus memperhatikan dan mementingkan Customer Experience (pengalaman pelanggan). Artinya, bukan hanya produk dan pelayanan dengan berbagai fitur yang hebat, membantu pemecahan masalah, tapi juga memberikan pengalaman yang baik bagi pelanggan. Oleh karena itu, perusahaan harus membuat pelanggan betah dalam memakai produknya berlama-lama atau menggunakan jasa perusahaan tersebut berkali-kali. Sebagai contoh, Frederick mengangkat produk Apple tahun 1980-an yang hampir mirip dengan iPhone atau iPad masa kini. Produk tersebut revolusioner karena memperbolehkan pemakai mengirim email lewat genggaman. Namun produk tersebut tidak terlalu berhasil karena konsumen pada saat itu pemakaian email belum terlalu luas. Sehingga, tidak ada pengalaman mengirim email yang dapat dibangun. Sehingga, pada saat itu, tidak banyak yang sadar dan merasa bahwa alat ini sebenarnya sangat membantu. Oleh karena itu, pengembangan di Kawasan Danau Toba harus memperhatikan interaksi, perasaan, dan emosi apa yang ada dari pengalaman dan perjalanan yang dilakukan oleh turis-turis yang memiliki berbagai latar belakang saat mereka berada di Kawasan Danau Toba. Frederick berulang kali menyatakan pentingnya analisa data, sehingga pengembangan tidak menggunakan asumsi yang tidak jelas asal dan dasarnya. Sehingga ‘Pelanggan Tepat, Penawaran Tepat, Saluran Tepat, dan Waktu yang Tepat’ dapat tercapai. 



Finalis Business Plan Competition

 
No
Nama Kelompok
Judul Proposal
Universitas
1
Slation
Aplikasi Penyelia Pemandu Wisata Ketoba
USUMedan
2
Yu See
CY CRASH Pelet Tinggi Nutrisi
IPB Bogor
3
Ketan
Bantu Tani
IT Del Laguboti
4
Koedetta
Toko Bergerak Olahan Nenas
IT Del Laguboti
5
Eleizer
SMAGRO
IT Del Laguboti
6
Yafiza Team
KAKOTA" Kampung Kopi Tradisional Dampit Solusi Cerdas Atasi Desa Tertinggal Sebagai Desa Pariwisata dengan Media
Universitas Brawijaya Malang
7
Wanita Tangguh
On Care : Informasi Layanan Kesehatan dengan bantuan GPS Near Me
IT Del Laguboti
8
Mothers Pray
My Toba Assistant: Apps asistant perjalanan wisata danau toba
USU Medan
9
Tim Nauli
Toba Plan (Aplikasi Perencana Wisata dan Event Danau Toba)
IT Del Laguboti
10
Stockasstic
Aplikasi Personalised Assistant bagi Investor Saham Pemula
ITB Bandung






1.    Tim Slation
Aplikasi Penyelia Pemandu Wisata Ketoba
Universitas Sumatera Utara, Medan

Prototype dari Aplikasi Penyelia Pemandu Wisata Ketoba dari Slation dapat diakses http://bit.ly/KeTobaUSU . Aplikasi Ketoba diharapkan mampu memudahkan Planning Trip dan Nooking Hotel Online. Tim ini terdiri dari Sarah Charisa Y P, Hanna Rabitha Hasni, dan Ilham Syahputra.

2.    Tim YU SEE
CY CRASH Pelet Tinggi Nutrisi
Insitut Pertanian Bogor, Bogor

Kalimat “Sampah tak selamanya tak bernilai, melainkan sampah adalah bisnis yang menjanjikan”, yang tertera pada slide, cukup mencuri perhatian penonton dan juri. Tim ini mencoba melakukan inovasi dengan Bio-Teknologi terhadap sampah organik, dan menjadikannya bisnis. Misalnya dengan magot kering, pellet kering, tepung maggot, POC dan POP. Tim ini terdiri dari Muhamad Yusuf dan Siti H. S.


3.    Tim Ketan
Bantu Tani
Institut Teknologi Del, Laguboti, Toba Samosir

Tim ini terdiri dari Chrisdio, Lestari Simangunsong, dan Rudi. Tim ini berusaha membantu petani lewat crowdfunding. Tim ini juga terinspirasi dari Tani Hub dan Tani Fund.



4.    Tim Koedetta
Toko Bergerak Olahan Nenas
Institut Teknologi Del, Laguboti, Toba Samosir

Tim ini terdiri dari Anju M. Silitonga, dan Devid Manurung. Fokus dari tim ini adalah mencari, membuat dan menjual berbagai produk olahan nenas dari Kecamatan Sipahutar, Kabupaten Toba Samosir.

5.    Tim Eleizer
SMAGRO
Institut Teknologi Del, Laguboti, Toba Samosir

Tim ini terdiri dari Sulastri Hutajulu, Fredy Mordechai Marpaung, dan Sarah Panjaitan. Dari namanya, sudah dapat ditebak bahwa tim ini membawa tema dan permasalahan dari bidang agro.

6.    Tim Yafiza Team
KAKOTA Kampung Kopi Tradisional Dampit Solusi Cerdas Atasi Desa Tertinggal Sebagai Desa Pariwisata dengan Media
Universitas Brawijaya, Malang

7.    Tim Wanita Tangguh
On Care: Informasi Layanan Kesehatan dengan Bantuan GPS Near Me
Institut Teknologi Del, Laguboti, Toba Samosir




Tim ini terdiri dari Erika Pardede, Masta Siahaan, dan Grace Panjaitan. Tim ini mengangkat masalah kesenjangan jumlah tenaga medis antara kota dan desa pedalaman. Pengembangan di sektor pariwisata Danau Toba, juga terlihat menuntut adanya pertambahan jumlah tenaga medis, untuk menangani wisatawan dan tenaga kerja yang ada di Kawasan Danau Toba. Selain sebagai aplikasi panggilan darurat, On Care juga terinspirasi dari ALODOKTER, Doctor Assist, dan Halodoc.

8.    Tim Mothers Pray
My Toba Assistant: Apps assistant perjalanan wisata Danau Toba
Universitas Sumatera Utara, Medan


Bagi tim ini, beberapa peluang yang ada di pariwisata Danau Toba antara lain membangun rasa nyaman dan percaya, penyediaan informasi seputar Kawasan Danau Toba, biaya penginapan, dan fasilitas transportasi. Sehingga aplikasi My Toba Assistant dapat membantu untuk memberikan layanan transportasi, menjual produk UMKM Danau Toba, mengatur rencana liburan, memberikan layanan kuliner, dll. Untuk itu, terdapat fitur penyedia paket wisata, chat assistant, dll. Tim ini terdiri dari Ilham Kurnia Wahyudi, Febria Sahrina, dan Baju Aji Nurmansah.

9.    Tim Nauli
Toba Plan (Aplikasi Perencana Wisata dan Event Danau Toba)
Institut Teknologi Del, Laguboti, Toba Samosir

Tim ini terdiri dari lserida Quinta Nababan, Gratia Suryani Sitorus, dan Tasya Lonika Aritonang. Tim Nauli membawakan aplikasi Toba Plan, yaitu aplikasi Event Organizer untuk Toba yang menyediakan Pesta Ulang Tahun, Pernikahan Tujuan, Candle Light Dinner, dan Perjalanan yang dikombinasikan dengan budaya tradisional dari Toba. Sejauh ini, Tim Nauli menyatakan sedang mengupayakan kerjasama dengan berbagai kafe dan restoran yang ada di Kawasan Danau Toba. Sebanyak 9 kafe dan restoran telah setuju untuk kerjasama lebih lanjut terkait aplikasi Toba Plan.

 10.  Tim Stockasstic
Aplikasi Personalised Assistant bagi Investor Saham Pemula
Institut Teknologi Bandung, Bandung


Tim ini terdiri dari Albert Setiawan, Bryan Aptana Widjaja, dan Feby Eliana Tengry.
Tim ini ingin memanfaatkan pasar modal Indonesia yang potensial dan berkembang dengan pesat. Pasar modal dapat mempercepat pertumbuhan ekonomi Indonesia. Terlebih lagi, pasar modal JSE IDX telah berkembang 194% dari tahun 2006 hingga 2016. Stockasstic adalah aplikasi untuk mempermudah analisis pasar saham, belajar tentang analisis teknis, dan melakukan perdagangan saham lebih efisien. Terdapat mode dasar bagi pendatang baru yang memberikan informasi secara sederhana namun tidak kehilangan informasi asli dari pasar modal.









Pemenang Business Plan Competition

1st winner
Tim Wanita Tangguh
On Care: Informasi Layanan Kesehatan dengan Bantuan GPS Near Me
Institut Teknologi Del, Laguboti, Toba Samosir


2nd winner
Tim YU SEE
CY CRASH Pelet Tinggi Nutrisi
Insitut Pertanian Bogor, Bogor


3rd winner
Tim Stockasstic
Aplikasi Personalised Assistant bagi Investor Saham Pemula
Institut Teknologi Bandung, Bandung



Selamat kepada para juara!



Juri


1.    Christopher Angkasa, Founder Clapham Co

2.    Ricardo Situmeang, dosen Institut Teknologi Del

3.    Reynold Lumban Tobing, Analisis Penjualan BNI Cabang Balige

4.    Frederick Situmeang, Associate Professor Universitas Amsterdam




Cinderamata kepada juri dan pembicara











Trip to Situmurun

Berikut informasi singkat terkait Air Terjun Situmurun:
Pada Hari Sabtu, tanggal 10 November 2018, setelah pengumuman juara dan acara makan siang, diadakan perjalanan ke Air Terjun Situmurun. Dimulai dengan naik bus dari Kampus Institut Teknologi Del ke Pelabuhan Balige. Lalu ddilanjutkan dengan menggunakan kapal ferry ke lokasi Air Terjun Situmurun.








No comments:

Post a Comment