THE BIGGEST ENTREPRENEURSHIP WEEKEND
IN
(brought to you by: Institut Teknologi Del , Badan Pelaksana Otorita Danau Toba (BPODT) , etc. )
Toba Entrepreneurship Festival (Festival Kewirausahaan Toba) adalah sebuah acara yang melibatkan para pemimpin bisnis lokal, startup dan eCommerce dan profesional yang di dalam dua hari di akhir pekan, Hari Kamis dan Hari Jumat, tanggal 9-10 November 2018. Acara ini merupakan ‘pekan kewirausahaan’ di Kawasan Danau Toba.
Toba Entrepreneurship Festival (Festival Kewirausahaan Toba) adalah sebuah acara yang melibatkan para pemimpin bisnis lokal, startup dan eCommerce dan profesional yang di dalam dua hari di akhir pekan, Hari Kamis dan Hari Jumat, tanggal 9-10 November 2018. Acara ini merupakan ‘pekan kewirausahaan’ di Kawasan Danau Toba.
Kenapa acara ini
menarik untuk diikuti?
Lewat acara ini, peserta dapat memangun jaringan dan hubungan melalui koneksi dengan investor, pendiri, pemilik bisnis dan mentor dengan orang-orang yang cerdas dan berpikiran sama.
Lewat acara ini, peserta dapat memangun jaringan dan hubungan melalui koneksi dengan investor, pendiri, pemilik bisnis dan mentor dengan orang-orang yang cerdas dan berpikiran sama.
Kompetisi
Kegiatan utama dalam TEF adalah Business Plan Competition 2018 dengan tema "Rural Entrepreneurship for Industry 4.0". Hal tersebut ialah kompetisi rencana bisnis dengan tema "Kewirausahaan Pedesaan untuk Industri 4.0".
Kegiatan utama dalam TEF adalah Business Plan Competition 2018 dengan tema "Rural Entrepreneurship for Industry 4.0". Hal tersebut ialah kompetisi rencana bisnis dengan tema "Kewirausahaan Pedesaan untuk Industri 4.0".
Berikut
link terkati TEF 2018: http://tef2018.co.id/ ,
https://www.facebook.com/pg/Toba-Enterpreneurship-Festival-2018-199240150871668/posts/ ,
https://www.facebook.com/pg/Toba-Enterpreneurship-Festival-2018-199240150871668/posts/ ,
https://www.facebook.com/pages/category/Event/Toba-Enterpreneurship-Festival-2018-199240150871668/ ,
dan
Acara ini
mengharuskan peserta untuk mengembangkan ide bisnis yang layak dan inovatif dan
delakukan presentasi di depan juri dan investor. BPC ini ditujukan
untuk mahasiswa
dari seluruh Indonesia yang terdiri dari 2-3 orang per tim. Dari proposal terbaik
akan masuk ke tahap akhir
sebgai finalis.
Semua peserta akan berusaha mencari solusi di pedesaan dengan
mempertimbangkan teknologi.
Dari 42 proposal yang diterima, 10 tim dengan proposal terbaik dipilih sebagai
finalis, yaitu:
No
|
Nama Kelompok
|
Judul Proposal
|
Universitas
|
1
|
Slation
|
Aplikasi Penyelia Pemandu Wisata Ketoba
|
USUMedan
|
2
|
Yu See
|
CY CRASH Pelet Tinggi Nutrisi
|
IPB Bogor
|
3
|
Ketan
|
Bantu Tani
|
IT Del Laguboti
|
4
|
Koedetta
|
Toko Bergerak Olahan Nenas
|
IT Del Laguboti
|
5
|
Eleizer
|
SMAGRO
|
IT Del Laguboti
|
6
|
Yafiza Team
|
KAKOTA" Kampung Kopi Tradisional Dampit
Solusi Cerdas Atasi Desa Tertinggal Sebagai Desa Pariwisata dengan Media
|
Universitas Brawijaya
Malang
|
7
|
Wanita Tangguh
|
On Care : Informasi Layanan Kesehatan dengan
bantuan GPS Near Me
|
IT Del Laguboti
|
8
|
Mothers Pray
|
My Toba Assistant: Apps asistant perjalanan
wisata danau toba
|
USU Medan
|
9
|
Tim Nauli
|
Toba Plan (Aplikasi Perencana Wisata dan
Event Danau Toba)
|
IT Del Laguboti
|
10
|
Stockasstic
|
Aplikasi Personalised Assistant bagi Investor
Saham Pemula
|
ITB Bandung
|
Sharing Session
Pada TEF, juga diadakan seminar yang
membuka wawasan. Berikut adalah daftar yang berbicara dari panggung atau live video conference:
1.
Rommy Fauzi
Direktur Industri, Pariwisata dan Kelembagaan Kepariwisataan (DIPKK) pada Badan Pelaksana Otorita Danau Toba (BPODT)
Sebelum BPODT, ia bertanggung jawab atas Manajemen Data, Integrasi Data, EAI / Middleware, Analytics, Intelijen Bisnis, Perencanaan Sumber Daya Perusahaan, Penemuan Informasi, dan Arsitektur & Keamanan Bisnis Perusahaan Arsitektur di beberapa perusahaan perangkat lunak.
2.
Frederik Situmeang,
Associate Professor Universitas Amsterdam
Frederik Situmeang sejak Agustus 2016 adalah Associate Professor of Digital Innovation and Marketing di Amsterdam School of International Business dari Amsterdam University of Applied Sciences (AUAS). Dia berafiliasi dengan Centre for Applied Research on Economics & Management (Pusat Penelitian Terapan tentang Ekonomi & Manajemen) AUAS. Dia juga berafiliasi dengan Centre for Market Insights (Pusat Wawasan Pasar) AUAS. Frederick Situmeang juga mengajar di dalam Program Pre-Master, sebuah kerjasama antara Insitut Teknologi Del dan Universiteit van Amsterdam.
Frederik Situmeang sejak Agustus 2016 adalah Associate Professor of Digital Innovation and Marketing di Amsterdam School of International Business dari Amsterdam University of Applied Sciences (AUAS). Dia berafiliasi dengan Centre for Applied Research on Economics & Management (Pusat Penelitian Terapan tentang Ekonomi & Manajemen) AUAS. Dia juga berafiliasi dengan Centre for Market Insights (Pusat Wawasan Pasar) AUAS. Frederick Situmeang juga mengajar di dalam Program Pre-Master, sebuah kerjasama antara Insitut Teknologi Del dan Universiteit van Amsterdam.
3.
Pamitra Wineka,
Co Founder Tanigroup
Pamitra adalah salah satu pendiri dan presiden dari TaniGroup, startup AgTech (teknologi agrikultur) terkemuka di Indonesia yang bertujuan membantu petani kecil Indonesia mendapatkan akses yang lebih baik ke pasar dan keuangan melalui platform e-commerce, TaniHub, dan platform crowdlending, TaniFund. Saat ini ada 20.000 petani mitra terdaftar di TaniGroup yang memasok produk hortikultura, unggas, dan akuakultur dari seluruh Indonesia.
Pamitra adalah salah satu pendiri dan presiden dari TaniGroup, startup AgTech (teknologi agrikultur) terkemuka di Indonesia yang bertujuan membantu petani kecil Indonesia mendapatkan akses yang lebih baik ke pasar dan keuangan melalui platform e-commerce, TaniHub, dan platform crowdlending, TaniFund. Saat ini ada 20.000 petani mitra terdaftar di TaniGroup yang memasok produk hortikultura, unggas, dan akuakultur dari seluruh Indonesia.
4.
Josephine Sembiring,
Founder Pak Tani Digital
Josephine Sembiring, seorang dosen dan pengusaha yang memiliki minat dalam industri kreatif sejak tahun 2014. Ia menerima penghargaan sebagai Pengusaha Muda Mandiri Nasional pada tahun 2016. Ia juga menjadi Direktur di PT. Hagatekno Mediata Indonesia, perusahaan IT dengan konsep bisnis berbagi yang telah melahirkan sejumlah StarUp yaitu Digital Farmers, Technicians, Toba Smile.
Josephine Sembiring, seorang dosen dan pengusaha yang memiliki minat dalam industri kreatif sejak tahun 2014. Ia menerima penghargaan sebagai Pengusaha Muda Mandiri Nasional pada tahun 2016. Ia juga menjadi Direktur di PT. Hagatekno Mediata Indonesia, perusahaan IT dengan konsep bisnis berbagi yang telah melahirkan sejumlah StarUp yaitu Digital Farmers, Technicians, Toba Smile.
5.
Hendra Tjanaka,
CEO OF MAPAN
Hendra adalah orang di balik merek yang memimpin dan menumbuhkan Mapan menjadi salah satu jaringan agen berpengaruh terbesar dengan 2 juta anggota hari ini - hanya dalam 3 tahun. Sekarang, sebagai CEO Mapan Hendra memimpin tim sekitar 2.000 karyawan untuk mencapai misinya dalam meningkatkan kehidupan keluarga berpenghasilan rendah di Indonesia.
Hendra adalah orang di balik merek yang memimpin dan menumbuhkan Mapan menjadi salah satu jaringan agen berpengaruh terbesar dengan 2 juta anggota hari ini - hanya dalam 3 tahun. Sekarang, sebagai CEO Mapan Hendra memimpin tim sekitar 2.000 karyawan untuk mencapai misinya dalam meningkatkan kehidupan keluarga berpenghasilan rendah di Indonesia.
6.
Helmut Ramseur,
Founder Silicon Vilstal
Helmut Ramseur adalah pendiri dari Silicon Vilstal dari daerah Lower Bavaria, Negara Jerman. Silicon Vilstal adalah inisiatif regional pribadi yang berkisar pada inovasi, kewirausahaan, dan kreativitas. Wilayah timur laut dari Kota Munich, oleh Vilsbiburg dan Geisenhausen, telah terhubung dengan proyek-proyek regional lainnya sebagai bagian dari inisiatif nasional yang disebut "Wilayah Digital", yang memungkinkan ide-ide inovatif untuk terungkap dari daerah desa.
Helmut Ramseur adalah pendiri dari Silicon Vilstal dari daerah Lower Bavaria, Negara Jerman. Silicon Vilstal adalah inisiatif regional pribadi yang berkisar pada inovasi, kewirausahaan, dan kreativitas. Wilayah timur laut dari Kota Munich, oleh Vilsbiburg dan Geisenhausen, telah terhubung dengan proyek-proyek regional lainnya sebagai bagian dari inisiatif nasional yang disebut "Wilayah Digital", yang memungkinkan ide-ide inovatif untuk terungkap dari daerah desa.
7.
Christopher Angkasa,
Founder Clapham Co
Christopher Angkasa adalah anggota dari sebuah bisnis keluarga generasi ke-3 yang berbasis di Medan, Sumatra Utara, Indonesia. Bisnis ini termasuk industri seperti manufaktur plastik, budidaya udang, bank tanah, dan Food & Beverage. Dia telah aktif dalam mengelola dana yang berbasis nilai, sebagai ‘malaikat investasi’ bagi startup digital (di Indonesia), dan mendirikan perusahaan konsultan keuangan. Salah satu proyek terbarunya adalah Clapham Collective (@claphamco), yang merupakan tempat kerja (co-working space) yang memudahkan startup untuk saling berdiskusi memecahkan masalah dan menemukan solusi.
Christopher Angkasa adalah anggota dari sebuah bisnis keluarga generasi ke-3 yang berbasis di Medan, Sumatra Utara, Indonesia. Bisnis ini termasuk industri seperti manufaktur plastik, budidaya udang, bank tanah, dan Food & Beverage. Dia telah aktif dalam mengelola dana yang berbasis nilai, sebagai ‘malaikat investasi’ bagi startup digital (di Indonesia), dan mendirikan perusahaan konsultan keuangan. Salah satu proyek terbarunya adalah Clapham Collective (@claphamco), yang merupakan tempat kerja (co-working space) yang memudahkan startup untuk saling berdiskusi memecahkan masalah dan menemukan solusi.
8.
David Hutagalung,
Country Director dari
General Electric
David Hutagalung saat ini adalah Direktur GE untuk bisnis Tenaga Listrik di Negara Indonesia, posisi yang dia ambil pada bulan September 2016. David bertanggung jawab atas pengembangan strategi keseluruhan untuk bisnis tenaga listrik di Indonesia, termasuk strategi penangkapan / penutupan pada transaksi penting , dan berkoordinasi dengan P & L Sales Leaders and Sales Teams di daerah-daerah.
David Hutagalung saat ini adalah Direktur GE untuk bisnis Tenaga Listrik di Negara Indonesia, posisi yang dia ambil pada bulan September 2016. David bertanggung jawab atas pengembangan strategi keseluruhan untuk bisnis tenaga listrik di Indonesia, termasuk strategi penangkapan / penutupan pada transaksi penting , dan berkoordinasi dengan P & L Sales Leaders and Sales Teams di daerah-daerah.
9.
Dayu Dara Permata,
Co-Founder Go-life
Dayu Dara Permata adalah Wakil Presiden Senior GO-JEK, dan salah satu pendiri GO-LIFE yang merupakan divisi gaya hidup GO-JEK. Dia pernah menjadi mentor termuda untuk Program Pemimpin Eksekutif SMU (LoP) dan memiliki pengalaman lama bekerja dengan PT XL Axiata dan Mc Kinsey and Company.
Dayu Dara adalah Co-Founder dari Go-Life. Karirnya berawal ketika lulus S1 dari Fakultas Teknik Industri ITB. Selulus S1, Dara memilih Axiata sebagai pelabuhan pertamanya tepatnya di Divisi Corporate Strategy.
Setelah setahun bekerja di Axiata, Dayu Dara hijrah ke McKinsey untuk mengejar cita-citanya sebagai konsultan.
Awal tahun 2015, sesama alumni McKinsey, yakni Nadiem Makarim menawarkan Dayu untuk menjadi Co-Founder di lini nontransportasi yang kini menjadi Go-Life. Nadiem juga mengatakan kepada Dara “Orang seperti kita ini seharusnya memberikan pekerjaan kepada orang lain bukan mencari pekerjaan.”
Kini, ia menjabat sebagai Vice President PT Aplikasi Karya Anak Bangsa yang menaungi Go-Jek. Secara fungsional, ia adalah Co-Founder di lini layanan jasa rumah tangga yakni Go-Life yang meliputi Go-Massage, Go-Clean, Go-Glam, dan Go-Tix.
Dayu Dara Permata adalah Wakil Presiden Senior GO-JEK, dan salah satu pendiri GO-LIFE yang merupakan divisi gaya hidup GO-JEK. Dia pernah menjadi mentor termuda untuk Program Pemimpin Eksekutif SMU (LoP) dan memiliki pengalaman lama bekerja dengan PT XL Axiata dan Mc Kinsey and Company.
Dayu Dara adalah Co-Founder dari Go-Life. Karirnya berawal ketika lulus S1 dari Fakultas Teknik Industri ITB. Selulus S1, Dara memilih Axiata sebagai pelabuhan pertamanya tepatnya di Divisi Corporate Strategy.
Setelah setahun bekerja di Axiata, Dayu Dara hijrah ke McKinsey untuk mengejar cita-citanya sebagai konsultan.
Awal tahun 2015, sesama alumni McKinsey, yakni Nadiem Makarim menawarkan Dayu untuk menjadi Co-Founder di lini nontransportasi yang kini menjadi Go-Life. Nadiem juga mengatakan kepada Dara “Orang seperti kita ini seharusnya memberikan pekerjaan kepada orang lain bukan mencari pekerjaan.”
Kini, ia menjabat sebagai Vice President PT Aplikasi Karya Anak Bangsa yang menaungi Go-Jek. Secara fungsional, ia adalah Co-Founder di lini layanan jasa rumah tangga yakni Go-Life yang meliputi Go-Massage, Go-Clean, Go-Glam, dan Go-Tix.
10. Trisnayati Pardede, Founder Batikta
Trisnayati mengawali
Batikta dari rumahnya. Sekarang, Batikta telah mempunya sebuah tempat yang
dinamai Lamuro Square, berlokasi di Kabupaten Toba Samosir, yang merupakan
gabungan tempat belanja souvenir, restoran, dan kafe. Batikta membawa motif
ulos dan ornamen Batak ke kain baju yang telah dipakai secara luas. Hal ini
membuktikan peran swasta dalam mengembangkan potensi daerah pedesaan.
11. Erick dan William Kwok, mapaya.id
Konon, Mapaya adalah singkatan dari
‘Makan Apa Ya?’. Lewat perusahaan ini, konsumen dapat memesan menu hingga 7
hari ke depan. Hal yang memudahkan untuk urusan konsumsi dalam acara pesta dan
kegiatan kantor.
Paparan
1.
Welcome
and Intro: Ricardo Situmeang
Ricardo
Situmeang adalah seorang dosen dari Institut Teknologi Del. Beliau juga
terlibat dalam penyelenggaraan TEF 2018. Beliau menyampaikan bahwa SDM di
Kawasan Danau Toba memiliki keuntungan dalam membangun startup di Kawasan Danau
Toba karena memiliki pengetahuan dan pengalaman yang seharusnya lebih luas dan mendalam
tentang kondisi pasar Kawasan Danau Toba. Beliau juga mengapresiasi usaha dan
kepedulian dari BPODT terhadap pengembangan pendidikan dan penggunaan
pemanfaatan teknologi di Kawasan Danau Toba. Beliau berharap agar upaya
pengembangan dan pengelolaan pendidikan di Kawasan Danau Toba dapat
meningkatkan SDM lokal dan meningkatkan ekosistem bisnis di Kawasan Danau Toba
dari. Event seperti TEF, dapat membuka wawasan mahasiswa dan meningkatkan ketertarikan
untuk merintis usaha bisnis yang memecahkan permasalahan di Kawasan Danau Toba.
2.
From Idea
to Execution (How to prepare future entrepreneurs) (GERAKAN 1000 STARTUP)
Miftachur
Robani atau akrab dipangil Ben, merupakan Chief Marketing Officer LindungiHutan
Facilitator Gerakan Nasional 1000 Startup Facilitator Gapura Digital by Google
Inisiator SMART UP Semarang Startup. Ben membuka dengan kalimat nyentrik:
“Pengusaha bisa lebih sukses tapi mertua lebih percaya PNS”. Namun, Ben justru
menyatkan bahwa kaum milenial terjun ke dunia startup, bukan karena perkara
mendapatkan uang banyak, namun justru untuk pemecahan masalah di daerah dan
masyarakat di sekitarnya. Ben menempuh pendidikan tingginya di Semarang, dan ia
sadar bahwa ia berakar di Semarang dan harus membantu menyelesaikan
masalah-masalah di sekitar Kota Semarang. Di sisi lain, Ben juga terlibat
dengan lindungihutan.com, karena ia sadar akan keinginan jiwanya untuk membantu
memfasilitasi hal-hal yang bermasalah tentang hutan dan pertanahan. Ben
mengungkapkan 4 dari 8 startup unicorn yang ada di Asia Tenggara berasal dari
Indonesia. Mereka adalah Gojek, Tokopedia, Traveloka, dan Bukalapak. Namun,
masih 3% dari penduduk Indonesia tergolong sebagai pengusaha, lebih rendah
dibandingkan 5 persen di Malaysia dan 7 persen di Singapura. Oleh karena itu,
Ben menyarankan agar pejabat pemerintah, entrepreneur yang sudah lama
berbisnis, dan akademisi agar sering-sering bersama-sama bertemu dengan kawula
muda, agar muncul lebih banyak anak muda yang mau memecahkan masalah yang ada
di tengah-tengah masyarakat.
3.
The
Future of Lake Toba Tourism (BOPDT)
Bapak Rommy
Fauzi menyampaikan bahwa di tingkat nasional dan di tingkat kementrian,
pengembangan dan pengelolaan pariwisata telah menjadi pusat perhatian dari
berbagai kementrian. Negara telah menyadari dampak positif yang luas dan
mendalam yang akan diakibatkan dari pengembangan dan pengelolaan pariwisata
yang berkelanjutan, sehingga, telah menaruh perhatian yang besar kepada hal-hal
yang menyangkut kepariwisataan. Oleh karena itu, seharusnya anak muda, melalui
teknologi, juga diikutkan dalam pemecahan masalah yang ada. Namun, perlu
diberikan pembukaan wawasan lewat pendidikan di daerah lokal sehingga lebih
banyak lagi anak-anak muda yang ada di Kawasan Danau Toba mau ikut membantu
dalam memecahkan masalah yang ada di Kawasan Danau Toba. Pemerintah telah
menginisiasi dan memfasilitasi berbagai hal seperti penerbangan Bandara
Silangit – Kuala Lumpur, kapal ferry KMP Ihan Batak, berbagai event musik,
kesenian, dan olahraga, pelatihan Bahasa Inggris di Sigapiton, dan peningkatan
di Bandara Sibisa serta pembuatan masterplan
di Sibisa. Terlebih lagi terdapat upaya untuk menjadikan Kawasan Danau
Toba sebgai ‘single destination, single
management’ atau Toba sebgai satu tempat tujuan wisata yang memiliki satu sistem
pengelolaan, yang pastinya dibantu dan diawasi oleh dukungan teknologi
informasi dan komunikasi. Tentunya, masih ada berbagai hal yang harus
dilengkapi dari hal-hal tersebut. Kekurangan tersebut ialah peluang yang dapat
dimanfaatkan oleh anak-anak muda yang ingin memecahkan permasalahan yang
berakar di Kawasan Danau Toba. Agar masyarakat lokal tidak hanya menjadi
penonton, perlu ditingkatkan pertemuan dan ajang networking antara anak muda
yang mengerti teknologi, dan pihak pemerintah. Sehingga pemerintah dapat
memfasilitasi kebutuhan yang muncul ataupun mempertemukan dengan pihak-pihak
yang tertarik dan dapat membantu pemecahan masalah tersebut. Bapak Rommy Fauzi selaku
Direktur Industri, Pariwisata
dan Kelembagaan Kepariwisataan (DIPKK) pada Badan Pelaksana Otorita
Danau Toba (BPODT), menyatakan dirinya siap untuk dijumpai
oleh akademisi ataupun anak muda yang ingin didukung dalam memecahkan masalah
yang berakar dari Kawasan Danau Toba. Keinginan dan inisiatif masyarakat lokal
untuk aktif dan dalam pemecahan masalah, harus didukung oleh pemerintah.
4.
Bank
Access for Area Head Bank Mandiri (Bapak Wahyu Binuko)
Bapak Wahyu Binuko, atau yang akrab
dipanggil Pak Wabin, menyampaikan paparan tentang ‘Bank Loan For Startup’ atau
pinjaman dari bank untuk perusahaan rintisan. Bank Mandiri sudah tidak asing
lagi dalam berkerjasama dengan pihak-pihak yang ada di Kawasan Danau Toba,
misalnya seperti Yayasan Del lewat Institut Teknologi Del. Artinya, bank adalah
salah satu pilihan yang tepat bagi perusahaan rintisan yang membutuhkan uang
sebagai modal mengembangkan bisnisnya. Misalnya, Wirausaha Muda Mandiri yang
sudah dikenal sangat sederhana dalam memenuhi kebutuhan perusahaan rintisan.
5.
What
founders mostly failures and success during building startups (Christoper
Angkasa from Clapham Collective Medan)
Akrab
dipanggil Chris, Founder dari Clapham ini menyatakan bahwa SDM lokal seharusnya
adalah yang paling mengerti masalah di daerahnya dan yang jika memiliki niat
memecahkan masalah, berkeinginan untuk berkolaborasi, dan mau belajar
teknologi, akan dapat memecahkan masalah yang ada tersebut. Chris mengapresiasi
usaha dan kepedulian dari BPODT terhadap pengembangan pendidikan dan penggunaan
pemanfaatan teknologi di Kawasan Danau Toba. Masalah di ekosistem wirausaha di
Kawasan Danau Toba, adalah seperti pertayaan telur dan ayam. Antara apakah
ekosistem harus bagus dulu baru SDM mau berbisnis dan memecahkan masalah di
Kawasan Danau Toba, atau SDM lokal mau berkembang bersama-sama dalam memperbaiki
dan membangun ekosistem yang ada? Chris menyatakan mulai dari startup
digitalisasi logistik/rantai pasok terhadap petani hingga startup unicorn
Indonesia, sebenarnya mereka adalah sekumpulan orang yang mencoba menyelesaikan
masalah yang berakar dari daerah tempat tinggalnya. Mereka dulunya menjalankan
bisnis tradisional yang sekarang dikelola secara digital karena skala yang
sudah terlalu luas. Sebagai contoh, Chris mengangkat kisah Go-Jek yang dulunya
memakai platform telepon, dan baru memakai platform internet lewat mobile apps
setelah skala trafik pasokan jumlah ojek dan permintaan pelanggan sudah terlalu
berat dan besar untuk ditanggapi via telepon.
6.
How
to Build Entrepreneurship Mindset in Rural Area (Hendra Tjanaka, PT MAPAN)
MAPAN
merupakan sekumpulan orang-orang yang ingin memberikan dampak kepada masyarakat
di pedesaan yang kekurangan akses ke barang-barang berkualitas dan kekurangan
opsi pembiayaan/pembayaran. Salah satunya adalah kerjasama dengan
komunitas-komunitas yang ada di pedesaaan lewat arisan. Arisan adalah suatu hal
tradisional yang dengan MAPAN, diberikan sedikit sentuhan teknologi sehingga
mampu memberikan dampak yang lebih luas kepada peningkatan kualitas hidup
masyakarat di pedesaan.
Christoper Angkasa adalah seorang investor profesional. Dia telah
berinvestasi sejak 2007. Dia aktif berinvestasi di pasar AS, Singapura,
dan Indonesia. Selain berinvestasi, Christoper juga menulis tentang
pasar Indonesia di flog.co.id, situs web yang ia dirikan untuk
menyalurkan pemikirannya. Dia saat ini aktif berinvestasi melalui Little
Lights Capital, dan Denali Mitra. Chris juga mendirikan Clapham
Collective, sebuah ruang inkubator di Medan.
7.
How
Technology Changing The Face of Indonesian Agriculture (Josephine Sembiring
from Pak Tani Digital)
Josephnie
Sembiring dan Mahendra Sitepu (sebagai Founder) memiliki ide dan tujuan yang
sama, yaitu adanya marketplace onlinedigital bagi produk yang langsung dari
petani ke konsumen. Ternyata salah satu masalah utama adalah harga yang tidak
transparan. Hal inilah yang dicoba untuk dipecahkan oleh Pak Tani Digital
(PTD). Tidak dipungkiri, Founder dan Co-Founder dari PTD memiliki akar yang
dekat dengan permasalahan pertanian di Sumatera Utara. Namun, dunia
digital-online tidak menutup pintu agar aplikasi mereka juga sudah terkenal dan
digunakan oleh petani di berbagai tempat di Indonesia. Untuk memenuhi kebutuhan
operasional, PTD masih mengharapkan uang hadiah dari berbagai kompetisi yang
diikutinya. Selain itu, lewat PT. Hagatekno
Mediata Indonesia, berkerjasama dengan BPODT dan Bank Indonesia, sedang
mengembangkan aplikasi Toba Smile. https://www.instagram.com/tobasmilecom
Buka https://play.google.com/store/apps/details?id=com.hagatekno.tobasmile , download, dan instal https://play.google.com/store/apps/details?id=com.hagatekno.tobasmile .
8.
Social
Innovation for Smart Region (Experience from Silicon Vilstal Germany) (Helmut
Ramseur)
Silicon
Vistal dirancang, salah satunya, untuk menemukan kebutuhan keinginan, dan
masalah-masalah yang bahkan tersembunyi yang bahkan masyarakat atau konsumen
sendiri tidak mengetahuinya, kuhususnya di daerah pedesaan. Sehingga solusi
yang dihasilkan sebisa mungkin tidak meimbulkan masalah lain secara menyeluruh.
Terlebih lagi, permasalhan di desa sering kali berbeda dengan masalah di kota. Seorang
pendiri dari Silicon
Vilstal adalah Helmut
Ramseur. Silicon Vilstal adalah inisiatif regional pribadi yang berkisar pada
inovasi, kewirausahaan, dan kreativitas. Wilayah timur laut dari Kota Munich, oleh
Vilsbiburg dan Geisenhausen, telah
terhubung dengan proyek-proyek regional lainnya sebagai bagian dari
inisiatif nasional yang disebut "Wilayah Digital", yang memungkinkan ide-ide inovatif untuk
terungkap dari daerah
desa. Helmut Ramseur menyatakan bahwa inovasi sosial dengan bantuan teknologi
digital-online adalah kunci bagi ekosistem kewirausahaan di pedesaan. Silicon
Vistal, telah mengadakan kerjasama di Kawasan Danau Toba dalam hal Agro-Wisata,
sebuah proyek yang baru dimulai di tahap diskusi dan seminar.
9.
Transition
from Conventional Agriculture into Digital World (Pamitra Wineka, Co-Founder of Tani Hub)
Pamitra Wineka
percaya bahwa Fintech (teknologi keuangan) dapat menjadi game changer yang membawa perubahan di sekotr agrikultur.
Agrikultur menjadi sasaran Fintech karena pada tahun 2016 menurut BPS,
Kementrian Pertanian, dan Kementrian Kelautan dan Perikanan, 13,45% dari Produk Domestik Bruto (PDB)
Indonesia berasal dari agrikultur dan perikanan. Porsi kedua terbesar setelah
20,51% dari manufaktur. Namun kondisi petani di Indonesia masih butuh banyak
dukungan. Tani Hub hadir untuk membantu petani, nelayan, dan peternak, agar
hasil panennya lebih mudah dibeli oleh retail, industry, hotel, restoran,
catering, dan ekportir. Sehingga, dengan teknologi digital-online ini, tidak
ada lagi perantara atau tengkulak. Selain itu juga ada Tani Fund yang dapat
membantu kampanye crowdfunding dan KUR.
Dengan begitu, Tani Hub dan Tani Fund memperkuat ekosistem bersama-sama dengan
pihak bank yang biasanya memberikan pinjaman dana dan asuransi.
10. How Millenials should prepared for
Industry 4.0 (David Hutagalung, Country Director GE Electric)
Sepak terjang
General Electric (GE) di Indonesia sudah dimulai sejak 75 tahu yang lalu.
Perusahaan ini sendiri telah berdiri di Amerika Serikat sejak 126 tahun yang
lalu, oleh Thomas Alva Edison. Sebagai salah satu direktur GE di Indonesia,
David Hutagalung menyatakan GE bergerak di bidang energi, tenaga listrik, dan
transportasi, serta menjadi penyedia berbagai peralatan medis yang dipakai di
Indonesia. Selain menyuplai mesin di kereta api dan mesin di pembangkit
listrik, GE juga banyak menyuplai MRI, CR-Scan, USG, dan Mammography di berbagai
rumah sakit Indonesia.
Bapak David Hutagalung merupakan salah satu keynote speaker TEF 2018
yang juga memberikan ilmunya dan motivasinya kepada para audience yang
hadir pada saat acara TEF. Dia mengungkapkan bahwa GE Indonesia dapat
membentuk pengolahan pemasaran energi dari dan di Indonesia
David Hutagalung merupakan Direktur Penjualan Regional, ASEAN GE Transportation & President Director PT GE Operations Indonesia.
Sebelum bergabung dengan PT.GE, David pernah menjadi Presiden Indonesian Student Association (Permias), Washington D.C., periode 1999-2000. Ia juga sempat berkarier di US-ASEAN Business Council sebagai resource centre bagi investor AS mengenai ekonomi maupun politik.
David memulai karirnya dengan GE pada tahun 2007 sebagai Direktur Pengembangan Pasar untuk GE Indonesia.
Setelah itu, David memegang posisi Direktur Kebijakan dan Hubungan Pemerintah GE untuk ASEAN, di mana ia memimpin dan mengelola hubungan energi pemerintah di seluruh Asia Tenggara untuk GE Energy Services.
Menurut David, Indonesia memiliki potensi pasar yang sangat besar untuk hampir semua unit bisnis .
David Hutagalung merupakan Direktur Penjualan Regional, ASEAN GE Transportation & President Director PT GE Operations Indonesia.
Sebelum bergabung dengan PT.GE, David pernah menjadi Presiden Indonesian Student Association (Permias), Washington D.C., periode 1999-2000. Ia juga sempat berkarier di US-ASEAN Business Council sebagai resource centre bagi investor AS mengenai ekonomi maupun politik.
David memulai karirnya dengan GE pada tahun 2007 sebagai Direktur Pengembangan Pasar untuk GE Indonesia.
Setelah itu, David memegang posisi Direktur Kebijakan dan Hubungan Pemerintah GE untuk ASEAN, di mana ia memimpin dan mengelola hubungan energi pemerintah di seluruh Asia Tenggara untuk GE Energy Services.
Menurut David, Indonesia memiliki potensi pasar yang sangat besar untuk hampir semua unit bisnis .
11. Entrepreneurs Panel (Local
entrepreneurs questions and answer)
Pada diskusi
panel ini, peserta dan panelis melakukan tanya jawab. Dipandu oleh Ricardo
Situmeang, Eric Wijaya dari mapaya.id dan Trisnayanti Pardede dari Batikta
menjawab pertanyaan-pertanyaan dari mahasiswa seperti sedang ngobrol.
Panel diskusi bersama Malaya dan Batita yang menawarkan produk mereka
kepada para konsumen dan audience yang hadir di Toba Entrepreneurship
Festival 2018.
12. Mentorship Session from Gerakan 1000
Startup (Revolutionizing Service Sector: Experience from GO LIFE) (Dayu Dara
Permata Vice President of Gojek Indonesia)
Dayu
menyatakan bahwa Go-Jek meskipun sudah dianggap Super App (aplikasi yang
memiliki sangat banyak fitur dalam 1 platform, all in one), namun tetap menjaga
budaya startup dan rasa ingin belajar. Aplikasi Go-Jek menghubungkan 90 juta
pemakainya dengan jutaan penyedia jasa. Dayu menyarankan agar para milenial
calon entrepreneur di Kawasan Danau Toba berfokus pada pemecahan masalah, bukan
kepada menciptakan atau mempertahankan alat-alat atau tools-nya, karena
platform atau teknologi yang dipakai bisa saja berubah, namun tujuannya tetap
sama. Dayu juga menyatakan bahwa adalah wajar bila suatu aplikasi memiliki
keterbatasan, karena hal ini memungkinkan fokus pada hal-hal yang belum pernah
diberikan oleh perusahaan-perusahaan sebellumnya. Slah satu contoh yang diambil
adalah AirBnB, sebuah perusahaan yang mempermudah turis untuk menginap di
rumah-rumah warga yang memiliki kamar kosong. AirBnB tidak membangun hotel atau
memiliki rumah, AirBnB hanya hanya terbatas pada memberikan pilihan-pilihan
yang bisa diakses.
13. Right Costumer, Right Offer, Right
Channel and Right Time (DR Frederick Situmeang)
Bagi
mahasiswa IT Del, Frederick Situmeang dikenal sebagai pengajar di dalam Program
Pre-Master, sebuah kerjasama antara Insitut Teknologi Del dan Universiteit van
Amsterdam. Pada TEF 2018, beliau berbicara tentang Marketing Management
(Pengeloloaan Pemasaran). Frederick menyatakan produk dan pelayanan harus
memperhatikan dan mementingkan Customer Experience (pengalaman pelanggan).
Artinya, bukan hanya produk dan pelayanan dengan berbagai fitur yang hebat,
membantu pemecahan masalah, tapi juga memberikan pengalaman yang baik bagi
pelanggan. Oleh karena itu, perusahaan harus membuat pelanggan betah dalam
memakai produknya berlama-lama atau menggunakan jasa perusahaan tersebut
berkali-kali. Sebagai contoh, Frederick mengangkat produk Apple tahun 1980-an
yang hampir mirip dengan iPhone atau iPad masa kini. Produk tersebut
revolusioner karena memperbolehkan pemakai mengirim email lewat genggaman.
Namun produk tersebut tidak terlalu berhasil karena konsumen pada saat itu pemakaian
email belum terlalu luas. Sehingga, tidak ada pengalaman mengirim email yang
dapat dibangun. Sehingga, pada saat itu, tidak banyak yang sadar dan merasa
bahwa alat ini sebenarnya sangat membantu. Oleh karena itu, pengembangan di
Kawasan Danau Toba harus memperhatikan interaksi, perasaan, dan emosi apa yang
ada dari pengalaman dan perjalanan yang dilakukan oleh turis-turis yang
memiliki berbagai latar belakang saat mereka berada di Kawasan Danau Toba. Frederick
berulang kali menyatakan pentingnya analisa data, sehingga pengembangan tidak
menggunakan asumsi yang tidak jelas asal dan dasarnya. Sehingga ‘Pelanggan
Tepat, Penawaran Tepat, Saluran Tepat, dan
Waktu yang Tepat’ dapat
tercapai.
Finalis
Business Plan Competition
No
|
Nama Kelompok
|
Judul Proposal
|
Universitas
|
1
|
Slation
|
Aplikasi Penyelia Pemandu Wisata Ketoba
|
USUMedan
|
2
|
Yu See
|
CY CRASH Pelet Tinggi Nutrisi
|
IPB Bogor
|
3
|
Ketan
|
Bantu Tani
|
IT Del Laguboti
|
4
|
Koedetta
|
Toko Bergerak Olahan Nenas
|
IT Del Laguboti
|
5
|
Eleizer
|
SMAGRO
|
IT Del Laguboti
|
6
|
Yafiza Team
|
KAKOTA" Kampung Kopi Tradisional Dampit
Solusi Cerdas Atasi Desa Tertinggal Sebagai Desa Pariwisata dengan Media
|
Universitas Brawijaya
Malang
|
7
|
Wanita Tangguh
|
On Care : Informasi Layanan Kesehatan dengan
bantuan GPS Near Me
|
IT Del Laguboti
|
8
|
Mothers Pray
|
My Toba Assistant: Apps asistant perjalanan
wisata danau toba
|
USU Medan
|
9
|
Tim Nauli
|
Toba Plan (Aplikasi Perencana Wisata dan
Event Danau Toba)
|
IT Del Laguboti
|
10
|
Stockasstic
|
Aplikasi Personalised Assistant bagi Investor
Saham Pemula
|
ITB Bandung
|
1.
Tim
Slation
Aplikasi Penyelia Pemandu Wisata Ketoba
Universitas Sumatera Utara, Medan
Aplikasi Penyelia Pemandu Wisata Ketoba
Universitas Sumatera Utara, Medan
Prototype dari Aplikasi Penyelia Pemandu Wisata Ketoba dari Slation dapat diakses http://bit.ly/KeTobaUSU . Aplikasi Ketoba diharapkan
mampu memudahkan Planning Trip dan Nooking Hotel Online. Tim ini terdiri dari Sarah
Charisa Y P, Hanna Rabitha Hasni, dan Ilham Syahputra.
2.
Tim
YU SEE
CY CRASH Pelet Tinggi Nutrisi
Insitut Pertanian Bogor, Bogor
Kalimat “Sampah tak selamanya tak bernilai, melainkan
sampah adalah bisnis yang menjanjikan”, yang tertera pada slide, cukup mencuri perhatian penonton dan
juri. Tim ini mencoba melakukan inovasi dengan Bio-Teknologi terhadap sampah
organik, dan menjadikannya bisnis. Misalnya dengan magot kering, pellet kering,
tepung maggot, POC dan POP. Tim ini terdiri dari Muhamad Yusuf dan Siti H. S.
3.
Tim Ketan
Bantu Tani
Institut Teknologi Del, Laguboti, Toba Samosir
Tim ini terdiri dari Chrisdio, Lestari Simangunsong,
dan Rudi. Tim ini berusaha membantu petani lewat crowdfunding. Tim ini juga
terinspirasi dari Tani Hub dan Tani Fund.
4.
Tim Koedetta
Toko Bergerak Olahan Nenas
Institut Teknologi Del, Laguboti, Toba Samosir
Tim ini terdiri dari Anju M. Silitonga, dan
Devid Manurung. Fokus dari tim ini adalah mencari, membuat dan menjual berbagai
produk olahan nenas dari Kecamatan Sipahutar, Kabupaten Toba Samosir.
5.
Tim Eleizer
SMAGRO
Institut Teknologi Del, Laguboti, Toba Samosir
Tim ini terdiri dari Sulastri Hutajulu, Fredy Mordechai Marpaung, dan Sarah Panjaitan. Dari namanya, sudah
dapat ditebak bahwa tim ini membawa tema dan permasalahan dari bidang agro.
6.
Tim Yafiza Team
KAKOTA Kampung Kopi Tradisional Dampit Solusi
Cerdas Atasi Desa Tertinggal Sebagai Desa Pariwisata dengan Media
Universitas Brawijaya, Malang
7.
Tim Wanita Tangguh
On Care: Informasi Layanan Kesehatan dengan
Bantuan GPS Near Me
Institut Teknologi Del, Laguboti, Toba Samosir
Tim ini terdiri dari Erika Pardede, Masta Siahaan, dan Grace Panjaitan. Tim ini
mengangkat masalah kesenjangan jumlah tenaga medis antara kota dan desa
pedalaman. Pengembangan di sektor pariwisata Danau Toba, juga terlihat menuntut
adanya pertambahan jumlah tenaga medis, untuk menangani wisatawan dan tenaga
kerja yang ada di Kawasan Danau Toba. Selain sebagai aplikasi panggilan
darurat, On Care juga terinspirasi dari ALODOKTER, Doctor Assist, dan Halodoc.
8.
Tim Mothers Pray
My Toba Assistant: Apps assistant perjalanan
wisata Danau Toba
Universitas Sumatera Utara, Medan
Bagi tim ini, beberapa
peluang yang ada di pariwisata Danau Toba antara lain membangun rasa nyaman dan
percaya, penyediaan informasi seputar Kawasan Danau Toba, biaya penginapan, dan
fasilitas transportasi. Sehingga aplikasi My Toba Assistant dapat membantu
untuk memberikan layanan transportasi, menjual produk UMKM Danau Toba, mengatur
rencana liburan, memberikan layanan kuliner, dll. Untuk itu, terdapat fitur
penyedia paket wisata, chat assistant, dll. Tim ini terdiri dari Ilham Kurnia Wahyudi, Febria Sahrina, dan Baju Aji Nurmansah.
9.
Tim Nauli
Toba Plan (Aplikasi Perencana Wisata dan Event
Danau Toba)
Institut Teknologi Del, Laguboti, Toba Samosir
Tim ini terdiri dari lserida Quinta Nababan,
Gratia Suryani Sitorus, dan Tasya Lonika Aritonang. Tim Nauli membawakan
aplikasi Toba Plan, yaitu aplikasi Event Organizer untuk Toba yang menyediakan
Pesta Ulang Tahun, Pernikahan Tujuan, Candle
Light Dinner, dan Perjalanan yang dikombinasikan dengan budaya
tradisional dari Toba. Sejauh
ini, Tim Nauli menyatakan sedang mengupayakan kerjasama dengan berbagai kafe
dan restoran yang ada di Kawasan Danau Toba. Sebanyak 9 kafe dan restoran telah
setuju untuk kerjasama lebih lanjut terkait aplikasi Toba Plan.
10.
Tim Stockasstic
Aplikasi Personalised Assistant bagi Investor
Saham Pemula
Institut Teknologi Bandung, Bandung
Tim ini terdiri dari Albert Setiawan, Bryan Aptana Widjaja, dan Feby Eliana Tengry.
Tim ini ingin memanfaatkan pasar
modal Indonesia yang potensial dan berkembang dengan pesat. Pasar modal dapat mempercepat
pertumbuhan ekonomi Indonesia. Terlebih lagi, pasar modal JSE IDX telah
berkembang 194% dari tahun 2006 hingga 2016. Stockasstic
adalah aplikasi untuk mempermudah analisis pasar saham, belajar tentang
analisis teknis, dan melakukan perdagangan saham lebih efisien. Terdapat mode dasar bagi pendatang
baru yang memberikan informasi secara sederhana namun tidak kehilangan
informasi asli dari pasar modal.
Pemenang Business Plan Competition
1st winner
Tim Wanita Tangguh
On Care: Informasi Layanan Kesehatan dengan
Bantuan GPS Near Me
Institut Teknologi Del, Laguboti, Toba Samosir
2nd winner
Tim YU SEE
CY CRASH Pelet Tinggi Nutrisi
Insitut Pertanian Bogor, Bogor
3rd winner
Tim Stockasstic
Aplikasi Personalised Assistant bagi Investor
Saham Pemula
Institut Teknologi Bandung, Bandung
Selamat kepada para juara!
1.
Christopher Angkasa,
Founder Clapham Co
2.
Ricardo Situmeang,
dosen Institut Teknologi Del
3.
Reynold Lumban Tobing,
Analisis Penjualan BNI Cabang Balige
4.
Frederick Situmeang, Associate
Professor Universitas Amsterdam
Cinderamata kepada juri dan pembicara
Trip to Situmurun
Berikut informasi singkat terkait Air Terjun
Situmurun:
Pada Hari Sabtu, tanggal 10 November 2018,
setelah pengumuman juara dan acara makan siang, diadakan perjalanan ke Air
Terjun Situmurun. Dimulai dengan naik bus dari Kampus Institut Teknologi Del ke
Pelabuhan Balige. Lalu ddilanjutkan dengan menggunakan kapal ferry ke lokasi
Air Terjun Situmurun.












































No comments:
Post a Comment