Wednesday, November 21, 2018

[PART-03] Mendapat ilmu di TOBA ENTREPRENEURSHIP FESTIVAL (TEF) 2018 (brought to you by: Institut Teknologi Del , Badan Pelaksana Otorita Danau Toba (BPODT) , etc. )

TOBA ENTREPRENEURSHIP FESTIVAL (TEF) 2018

THE BIGGEST ENTREPRENEURSHIP WEEKEND
IN
LAKE TOBA AREA

(brought to you by: Institut Teknologi Del , Badan Pelaksana Otorita Danau Toba (BPODT) , etc.  )


Pada kesempatan kali ini, blog ini akan berbagi ilmu yang diidapat dari TEF 2018. 
Let's check it out!



10.  How Millenials should prepared for Industry 4.0 (David Hutagalung, Country Director GE Electric)

Sepak terjang General Electric (GE) di Indonesia sudah dimulai sejak 75 tahu yang lalu. Perusahaan ini sendiri telah berdiri di Amerika Serikat sejak 126 tahun yang lalu, oleh Thomas Alva Edison. Sebagai salah satu direktur GE di Indonesia, David Hutagalung menyatakan GE bergerak di bidang energi, tenaga listrik, dan transportasi, serta menjadi penyedia berbagai peralatan medis yang dipakai di Indonesia. Selain menyuplai mesin di kereta api dan mesin di pembangkit listrik, GE juga banyak menyuplai MRI, CR-Scan, USG, dan Mammography di berbagai rumah sakit Indonesia. 
Bapak David Hutagalung merupakan salah satu keynote speaker TEF 2018 yang juga memberikan ilmunya dan motivasinya kepada para audience yang hadir pada saat acara TEF. Dia mengungkapkan bahwa GE Indonesia dapat membentuk pengolahan pemasaran energi dari dan di Indonesia 
David Hutagalung merupakan Direktur Penjualan Regional, ASEAN GE Transportation & President Director PT GE Operations Indonesia.
Sebelum bergabung dengan PT.GE, David pernah menjadi Presiden Indonesian Student Association (Permias), Washington D.C., periode 1999-2000. Ia juga sempat berkarier di US-ASEAN Business Council sebagai resource centre bagi investor AS mengenai ekonomi maupun politik.
David memulai karirnya dengan GE pada tahun 2007 sebagai Direktur Pengembangan Pasar untuk GE Indonesia.
Setelah itu, David memegang posisi Direktur Kebijakan dan Hubungan Pemerintah GE untuk ASEAN, di mana ia memimpin dan mengelola hubungan energi pemerintah di seluruh Asia Tenggara untuk GE Energy Services.
Menurut David, Indonesia memiliki potensi pasar yang sangat besar untuk hampir semua unit bisnis .

11.  Entrepreneurs Panel (Local entrepreneurs questions and answer)




Pada diskusi panel ini, peserta dan panelis melakukan tanya jawab. Dipandu oleh Ricardo Situmeang, Eric Wijaya dari mapaya.id dan Trisnayanti Pardede dari Batikta menjawab pertanyaan-pertanyaan dari mahasiswa seperti sedang ngobrol. 
Panel diskusi bersama Malaya dan Batita yang menawarkan produk mereka kepada para konsumen dan audience yang hadir di Toba Entrepreneurship Festival 2018. 

12.  Mentorship Session from Gerakan 1000 Startup (Revolutionizing Service Sector: Experience from GO LIFE) (Dayu Dara Permata Vice President of Gojek Indonesia)
Dayu menyatakan bahwa Go-Jek meskipun sudah dianggap Super App (aplikasi yang memiliki sangat banyak fitur dalam 1 platform, all in one), namun tetap menjaga budaya startup dan rasa ingin belajar. Aplikasi Go-Jek menghubungkan 90 juta pemakainya dengan jutaan penyedia jasa. Dayu menyarankan agar para milenial calon entrepreneur di Kawasan Danau Toba berfokus pada pemecahan masalah, bukan kepada menciptakan atau mempertahankan alat-alat atau tools-nya, karena platform atau teknologi yang dipakai bisa saja berubah, namun tujuannya tetap sama. Dayu juga menyatakan bahwa adalah wajar bila suatu aplikasi memiliki keterbatasan, karena hal ini memungkinkan fokus pada hal-hal yang belum pernah diberikan oleh perusahaan-perusahaan sebellumnya. Slah satu contoh yang diambil adalah AirBnB, sebuah perusahaan yang mempermudah turis untuk menginap di rumah-rumah warga yang memiliki kamar kosong. AirBnB tidak membangun hotel atau memiliki rumah, AirBnB hanya hanya terbatas pada memberikan pilihan-pilihan yang bisa diakses.

13.  Right Costumer, Right Offer, Right Channel and Right Time (DR Frederick Situmeang)





Bagi mahasiswa IT Del, Frederick Situmeang dikenal sebagai pengajar di dalam Program Pre-Master, sebuah kerjasama antara Insitut Teknologi Del dan Universiteit van Amsterdam. Pada TEF 2018, beliau berbicara tentang Marketing Management (Pengeloloaan Pemasaran). Frederick menyatakan produk dan pelayanan harus memperhatikan dan mementingkan Customer Experience (pengalaman pelanggan). Artinya, bukan hanya produk dan pelayanan dengan berbagai fitur yang hebat, membantu pemecahan masalah, tapi juga memberikan pengalaman yang baik bagi pelanggan. Oleh karena itu, perusahaan harus membuat pelanggan betah dalam memakai produknya berlama-lama atau menggunakan jasa perusahaan tersebut berkali-kali. Sebagai contoh, Frederick mengangkat produk Apple tahun 1980-an yang hampir mirip dengan iPhone atau iPad masa kini. Produk tersebut revolusioner karena memperbolehkan pemakai mengirim email lewat genggaman. Namun produk tersebut tidak terlalu berhasil karena konsumen pada saat itu pemakaian email belum terlalu luas. Sehingga, tidak ada pengalaman mengirim email yang dapat dibangun. Sehingga, pada saat itu, tidak banyak yang sadar dan merasa bahwa alat ini sebenarnya sangat membantu. Oleh karena itu, pengembangan di Kawasan Danau Toba harus memperhatikan interaksi, perasaan, dan emosi apa yang ada dari pengalaman dan perjalanan yang dilakukan oleh turis-turis yang memiliki berbagai latar belakang saat mereka berada di Kawasan Danau Toba. Frederick berulang kali menyatakan pentingnya analisa data, sehingga pengembangan tidak menggunakan asumsi yang tidak jelas asal dan dasarnya. Sehingga ‘Pelanggan Tepat, Penawaran Tepat, Saluran Tepat, dan Waktu yang Tepat’ dapat tercapai. 

Gimana nih, udah pada nambah belum ilmunya? Ajibb..

No comments:

Post a Comment